MAJAZ LUGHAWI 1: Majaz Mursal dan Pembagiannya

Makalah
MAJAZ LUGHAWI 1:
Majaz Mursal dan Pembagiannya

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Balaghah 2 yang diampu oleh
Bapak Agung Setyawan, M.Pd.



Disusun oleh kelompok 8 dengan anggota kelompok:
Noer Hasanatul Hafshaniyah        (11420093)
Mukhrodi (11420088)
Aslikhatul Lathifah (11420087)
Arinal Husna (11420091)

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA 
2014



A.   تَعْرِيْفُ الْاِسْتِعَارَةِ
الْأِسْتِعَارَةُ هِىَ مَجَازٌ عَلَاقَتُهُ الْمُشَابَهَةُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى : كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ اَىْ مِنَ الظَّلَالِ اِلَى الْهُدَى.
فَقَدِ اسْتَعْمِلَتْ الظُلُمَاتِ وَالنُّوْرِ فِى غَيْرِ مَعْنَى هُمَاالْحَقِيْقِى. وَالْعَلَاقَةُ الْمُشَابَهَةُ بَيْنَ الضَّلَالِ وَالظّلَامِ وَالْهُدَى وَالنُّوْرِ.
وَالْقَرِيْنَةُ مَا قَبْلَ ذَلِكَ. وَأَصْلُ الْأِسْتِعَارَةُ تُشْبِيْهٌ حُدِفَ أَحَدُ طَرْفَيْهِ وَوَجْهُ شَبَهِهِ وَأَدَوَاتُهُ.
وَالْمُشَبّهُ يَسَمَّى مُسْتَعَرًالَهُ، وَالْمُشَبَّهُ بِهِ يُسَمَّى مُسْتَعَرًا مِنْهُ.
فَفِى هَذَالْمِثَالِ الْمُسْتَعَارُلَهُ هُوَ الضَّلَالُ وَالْهُدَى. وَالْمُسْتَعَارُ مِنْهُ هُوَ مَعْنَى الظَلَاِم وَالنُورِ، وَلَفْظُ الظّلُمَاتِ وَالنُّوْرِ يُسَمَّى مُسْتَعَرًا.
B.  تَقْسِيْمُ الْاِسْتِعَارَةِ
وَتَنْقَسِمُ الْأِسْتِعَارَةُ اِلَى مُصَرَّحَةِ وَهِيَ مَا صَرَّحَ فِيْهَا بِلَفْظِ الْمُشَبِّهِ  بِهِ كَمَا فِى قَوْلِهِ:
فَاَمْطَرَتَ لُؤْلُؤًا مِنْ نَرْجَسٍ وَسَقَتْ # وَرْدًا وَ عَضَّتْ عَلَى الْعُنَّابِ بِالْبَرَدِ
فَقَدِ اسْتَعَارَ الُّلؤْلُؤَ وَالنَّرْجَسَ وَالْوَرْدَ وَالْعِناَبَ وَالْبَرَدَ لِدُّمُوْعِ وَالْعُيُوْنِ وَالْخُدُوْدِ وَالْاَناَمِلِ وَالْاَسْنَانِ. وَاِلَى مَكْنِيَّةِ وَهِيَ مَاحُذِفَ فِيْهَا الشِّبْهُ بِهِ وَرُمِزَ اِلَيْهِ بِشَيْئٍ مِنْ لَوَازِمِهِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى (وَاحْفِظْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ) فَقَدِ اسْتَعَارَ الطَّائِرُ لِلذُّلِّ ثُمَّ حُذِفَهُ وَدَلَّ عَلَيْهِ بِشَيْئٍ مِنْ لَوِازِمِهِ وَهُوَ الْجَناَحُ وَاِثْبَاتُ الْجَناَحِ لِلذُّلِّ يُشَمُّوْنَهُ اِسْتِعَارَةً تَخْلِيْلِيَّةً.  
وَتَنْقَسِمُ الْإِسْتِعَارَةُ إِلَي أَصْلِيَّةٍ وَهِيَ مَا كَانَ فِيْهَا الْمُسْتَعَارُ إِسْمًاغَيْرُ مُشْتَقٍّ كَاسْتِعَارَةِ الظَّلَامِ لِلضَّلَالِ وَالنُّوْرِ لِلْهُدَى. وَإِلَي تَبَعِيَّةٍ وَهِيَ مَاكَانَ الْمُسْتَعَارُ فِعْلًا أَوْ حَرْفًا أَوْ إِسْمًا مُشْتَقًّا نَحْوُ: رَكِبَ فُلَانٌ كَتِفَيْ غَرِيْمِهِ أَيْ لَازَمَهُ مُلَازَمَةً شَدِيْدَةً. وَقَوْلُهُ تَعَالَى: أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ أَيْ تَمَكَّنُوْا مِنَ الْحُصُوْلِ عَلَي الْهِدَايَةِ التَّامَّةِ. وَ نَحْوُ قَوْلِهِ: وَلَئِنْ نَطَقْتُ بِشُكْرِ بِرِّكَ مُفْصِحًا- فَلِسَانُ حَالِي بِالشِّكَايَةِ اَنْطَقُ أَيْ اَدَلُّ.
وَ تَنْقَسِمُ اْلإِسْتِعَارَةُ إِلَى مُرَشَّحَةٍ وَ هِيَ مَا ذُكِرَ فِيْهَا مَلائِمُ اْلمُشَبَّهِ بِهِ، نَحْوُ: أُولَئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُاالضَّلاَلَةَ بِالهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ..فاَلإِشْتِرَاءُ مُسْتَعَارٌ لِلاِسْتِبْدَالِ وَذِكْرُ الرِّبْحِ وَالتِّجَارَةِ تَرْشِيْخٌ وَإِلَى مُجَرَّدةٍ وَهِيَ الَّتىِ ذُكِرَ فِيْهَا مَلاَئِمُ الْمُشَبَّهِ  نَحْوُ: فَأَذَاقَهَا الله لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ.                                                                       
اُسْتُعِيْرَ اللِّبَاسُ لِمَا غَشِيَ اْلإِنْسَاَن عِنْدَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ وَاْلإِذَاقَةُ تَجْرِيْدٌ لِذَلِكَ.
وَإِلَى مُطْلَقَةٍ وَهِيَ الَّتِي لَمْ يُذْكَرْمَعَهَا مَلاَئِمٌ نَحْوُ: يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ.
وَلاَيُعْتَبَرُ التَّرْشِيْحُ وَالتَّجْرِيْدُإِلاَّ بَعْدَ تَمَامِ اْلإِسْتِعَارَةِ بِالْقَرِيْنَةِ.
















KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada kami, kelompok delapan sehingga kami dapat merampungkan makalah ini. Shalawat dan salam semoga mengalir deras pada Nabi Muhammad saw. yang telah menuntun kita dari alam kebodohan menuju alam ilmiah.
            Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang turut berkotribusi dalam perampungan makalah dengan tema “Majaz Lughawi 1: Majaz Mursal dan Pembagiannya” ini. Sebab makalah tidak akan berhasil dirampungkan tanpa adanya bantuan dari banyak pihak tersebut, baik itu berupa pinjaman referensi, sumbangan pemikiran ataupun tenaga, dan lain sebagainya. Semoga segala kebaikan yang telah dilakukan, dipandang sebagai amal shalih oleh-Nya. Amin.
            Makalah yang kami susun ini, tentu tidak terbebas dari berbagai bentuk kesalahan, baik itu dari segi sistematika pembahasan, diksi, penulisan, penggunaan tanda baca, maupun dalam segi koherensi isi serta ketajaman analisa. Maka terkait dengan hal ini, kami sangat mengharapkan kritik-saran konstruktif yang bermanfaat bagi perbaikan makalah selanjutnya.

Yogyakarta, 24 Pebruari 2014
















A.    PENGERTIAN MAJAZ ISTI’AROH
Dalam kajian Etimologi, kata Isti’aroh adalah bentuk Masdhar dari kata “Ista’aro” “Yasta’iru” “Istia’arotan” “Ista’ir”
Isti’aroh adalah majaz yang hubungannya berupa penyerupaan. Penyerupaan tersebut baik dalam segi Sifat, penyerupaan maksud, makna maupun Haliah[1]-nya (keadaan) tergantung Qorinah[2] yang menyangkut terhadap teks tersebut.
Seperti Firman Allah SWT كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ اَىْ مِنَ الظَّلَالِ اِلَى الْهُدَى yang Artinya  : “Inilah kitab yang telah Kami turunkan kepada engkau, mengeluarkan manusia dari kegelapan dan menunjukan pada cahaya, yakni kesesatan kepada kebenaran" . Redaksi Al-Quran dalam contoh menyebutkan kata “الظُّلُمَاتِdan “النُّوْرِdengan pemaknaan yang tidak semestinya. Yang seharusnya dimaknai “kegelapan” dan “cahaya”, akan tetap menggunakan makna “kesesatan” dan “kebenaran”.
Kedudukan kalimatnya adalah sebgai berikut:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ اَىْ مِنَ الظَّلَالِ اِلَى الْهُدَى

                                                      المستعارمنه                     المستعارله
Pemaknaan Isti’aroh juga tidak serta merta dapat dimengerti secara tekstual. Akan tetatpi perlu adanya interpretasi terhadap kata atau kalimat tersebut. Dalam buku Ilmu Bayan dicontohkan رسى تتكلم بالدّرر artinya “ risa berbicara dengan bagus” walaupun arti kata sesungguhnya dari Lafal الدّرر adalah Mutiara. Dan kata ini diasumsikan dan diserupakan sama pada persamaan rupa bagusnya dan keindahannya.

B.     PEMBAGIAN MAJAZ ISTI’AROH
Secara umum, majaz isti’aroh terbagi ke dalam 3 bagian, yaitu musharrohah, ashliyyah serta musyarrohah. Secara lebih spesifik, berikut paparan dari masing-masing bagian tersebut:
1.    Musharrohah dan makniyyah
Majaz isti’aroh musharrohah dapat dipahami sebagai sebuah majaz yang musyabbah bih-nya menggunakan lafadz yang jelas. Contohnya:
فَاَمْطَرَتَ لُؤْلُؤًا مِنْ نَرْجسٍ وَسَقَتْ # وَرْدًا وَ عَضَّتْ عَلَى الْعُنَّابِ بِالْبَرَدِ
          Kata  لُؤْلُؤًا menunjukkan terhadap air mata,  نَرْجسٍ menunjukkan terhadap mata وَرْدًا menunjukkan terhadap pipi الْعُنَّابِ menunjukkan terhadap air dan بَرَدِ menunjukkan terhadap gigi.
          Majaz isti’aroh makniyyah majaz yang musyabbah bih-nya dibuang dan diganti dengan sesuatu yang menjadi cirri khas atau identik dengan musyabbah bih tersebut. Dalam hal ini, contohnya yaitu firman Allah yang berbunyi:
وَاحْفِظْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
Kata الطَّائِرُ (burung) yang seharusnya ada kemudian diganti dengan sesuatu yang menjadi cirri khasnya yaitu جَنَاحَ (sayap). Dan ini dinamakan isti’aroh takhyiliyyah.
2.    Ashliyyah dan taba’iyyah
Majaz isti’arah dapat dibagi menjadi dua pula yakni isti’arah Ashliyyah dan Isti’arah taba’iyyah. Pembagian keduanya dapat terjadi atau dilakukan dan berlaku baik pada Isti’arah  tashrihiyyah ataupun makniyyah. Berikut penjelasannya:
a.    Asliyah yakni musta’arnya berupa isim jamid seperti meminjamkan kata الظلام untuk arti  الضلال dan kata النور untuk arti الهدى.
b.    Taba’iyah yaitu musta’arnya berupa fiil atau isim musytaq. Contoh:  ركب فلان كتفي غريمه ( Fulan, menaiki dua pundak orang yang berutang kepadanya, maksudnya sangat memberatkannya. Dan contoh Firman Allah: أولئك على هدى من ربهم ( mereka itu ada diatas petunjuk dari tuhan mereka). Maksudnya mereka telah mampu  memperoleh petunjuk yang sempurna. Dan contoh lagi: ولئن نطقتُ بشكر برك مفصحا- فلسان حالي بالشكاية انطق. Artinya jika aku dengan jelas menyatakan terimaksih tentang kebaikanmu – maka lisan keadaanku lebih berbicara dengan keluhan. Kata انطق artinya ادلّ dan ادلّ artinya lebih menunjukkan.
3.    Musyarrohah, mujarrobah dan muthlaqoh
a.    Majaz mursalah musyarrohah yaitu isti’aroh yang disebutkan di dalamnya  kata yang sesuai musysabbah bih. Contoh: اُولَئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ
Artinya: mereka itu orang orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka itu.
Maka kata membeli dipinjamkan untuk arti mengganti , dan penyebutan untung dan perniagaan adalah tarsyih.
b.    Majaz mursalah mujarradah, yaitu: isti’aroh yang disebutkan di dalamnya kata yang sesuai dengan musyabbahnya. Contoh:فَأَذَاقَهَا الله لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ
Artinya: maka allah merasakan kepadanya pakaian, rasa lapar dan takut.
Kata   لِبَاسٌdipinjamkan untuk arti sesuatu yang mencekam manusia ketika lapar dan takut. Sedangkan kata أَذَاقَ/اِذَاقَةٌ adalah tajrid untuk hal itu.
c.    Majaz mursalah mutlaqoh: isti’aroh yang tidak disebutkan kata kata tersebut di atas. Contoh: يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ
Artinya: mereka merusak perjanjian dengan allah. Dan tidak dikatakan tarsyih dan tajrid kecuali jika sudah sempurnanya isti’aroh dengan qarinah.




[1] Maksudnya kontekstualisme dari teks
[2] suatu tanda yang menunjukan kecenderunga pada suatu hal
Sonie Elbalarjani Muta'alim, Mahasiswa, Santri

0 Response to "MAJAZ LUGHAWI 1: Majaz Mursal dan Pembagiannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel