KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN




KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN
KONSELING PERKEMBANGAN
Oleh Prof. Dr. Ahman, M.Pd.
A.    Pengantar
Penyajian materi dalam bagian ini membekali guru bimbingan dan konseling (konselor) untuk mengubah paradigma kerja dari konselor yang sekadar menunggu klien yang bermasalah, menjadi konselor yang proaktif untuk mengembangkan tugas-tugas perkembangan siswa. Dalam materi konsep dasar bimbingan dan konseling perkembangan terlingkup penjelasan tentang definisi dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling perkembangan, asumsi bimbingan dan konseling perkembangan, tugas perkembangan sebagai dasar layanan bimbingan dan konseling, karakteristik perkembangan siswa SMP, faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan siswa SMP, dan tugas-tugas perkembangan siswa SMP.
B.     Kompetensi
Materi ini dirancang untuk mendukung pengembangan kompetensi sebagai berikut:
K.3. Menguasai konsep perilaku dan perkembangan individu.
K.5. Menguasai konsep dan praksis bimbingan dan konseling.
C.    Indikator
Subkompetensi dan indikator yang diharapkan dicapai para konselor dari kajian materi ini, antara lain:
K.3.3. Memahami konsep dan prinsip-prinsip perkembangan individu
Indikator K.3.3.a.  Menjelaskan prinsip-prinsip perkembangan
K.3.3.b. Menjelaskan proses perkembangan individu
K.3.3.c.  Menjelaskan aspek-aspek perkembangan
K.3.3.d. Menjelaskan fase dan tugas perkembangan
K.3.3.e.  Menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan
K.5.1. Memahami konsep dasar, landasan, asas, fungsi, tujuan, dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling
Indikator K.5.1.a. Menjelaskan konsep dasar bimbingan dan konseling
                 K.5.1.c. Menjelaskan asas-asas bimbingan dan konseling
                 K.5.1.e. Menjelaskan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling
D.    Strategi
Strategi pokok yang digunakan didalam mengkaji materi dalam upaya mengembangkan kompetensi di atas ialah:
1.      Ekspose tentang konsep dasar bimbingan dan konseling perkembangan
2.      Dialog
3.      Analisis kasus
4.      Refleksi diri
E.     Deskripsi Materi
1.      Definisi dan Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Bimbingan dan konseling perkembangan adalah pemberian bantuan kepada siswa yang dirancang dengan memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan, minat, dan isu-isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan siswa dan merupakan bagian penting dan integral dari keseluruhan program pendidikan. Bimbingan perkembangan mengutamakan pertumbuhan aspek positif dari setiap individu, ketimbang menekankan pada orientasi krisis. Model ini melibatkan guru kelas, dan kepala sekolah, serta melibatkan orangtua dalam kerja sama yang merupakan suatu tim bimbingan.
Model bimbingan perkembangan memungkinkan guru/konselor untuk memfokuskan tidak sekadar terhadap gangguan emosional siswa, melainkan lebih mengupayakan pencapaian tujuan dalam kaitan penguasaan tugas-tugas perkembangan, menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertentu, dan meningkatkan sumber daya serta kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap perkembangan murid secara optimal. Isi program bimbingan dan konseling perkembangan dilaksanakan melalui komponen layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan pendukung sistem.
Kebutuhan akan layanan bimbingan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) muncul dari karakteristik dan masalah-masalah perkembangan peserta didik. Pendekatan perkembangan dalam bimbingan merupakan pendekatan yang tepat digunakan di SMP, karena pendekatan ini lebih berorientasi pada pengembangan ekologi perkembangan peserta didik. Guru bimbingan dan konseling (konselor) yang menggunakan pcndekatan perkembangan melakukan identifikasi keterampilan dan pengalaman yang diperlukan siswa agar berhasil di sekolah dan dalam kehidupannya.
Dalam pelaksanaan bimbingan perkembangan, guru dapat melibatkan tim kerja atau berbagai pihak yang terkait terutama orangtua siswa, sehingga akan lebih efektif ketimbang bekerja sendiri. Bimbingan perkembangan dirancang secara sistem terbuka, dengan demikian penyempurnaan dan modifikasi dapat dilakukan setiap saat sepanjang diperlukan. Bimbingan perkembangan mengintegrasikan berbagai pendekatan, dan orientasinya multi-budaya, sehingga tidak mencabut klien dari akar budayanya. Tidak fanatik menolak suatu teori, melainkan meramu apa yang terbaik dari masing-masing terapi; dan yang lebih penting lagi mengkaji bagaimana masing-masing terapi bermanfaat bagi klien atau keluarga.
Menurut Muro dan Kottman (1995:50-53) bimbingan dan konseling perkembangan adalah program bimbingan yang didalamnya mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut.
a.       Bimbingan dan konseling diperlukan oleh seluruh siswa
Dalam program perkembangan kegiatan bimbingan dan konseling diasumsikan diperlukan oleh seluruh siswa, termasuk di dalamnya siswa yang memiliki kesulitan. Seluruh siswa ingin memperoleh pemahaman diri, meningkatkan tanggung jawab terhadap kontrol diri, memiliki kematangan dalam memahami lingkungan, dan belajar membuat keputusan. Setiap siswa memerlukan bantuan dalam mempelajari cara pemecahan masalah, dan memiliki kematangan dalam rnemahami nilai-nilai. Semua siswa memerlukan rasa dicintai dan dihargai, memiliki kebutuhan untuk meningkatkan kemampuannya, dan memiliki kebutuhan untuk memahami kekuatan pada dirinya.
b.      Bimbingan dan konseling perkembangan memfokuskan pada pembelajaran siswa
Sekolah saat ini memerlukan tenaga-tenaga yang spesialis. Spesialis untuk membantu siswa membaca, memainkan instrumen musik, dan membantu perkembangan fisik. Guru bimbingan dan konseling (konselor) dapat dipandang sebagai spesialis dalam pertumbuhan dan perkembangan siswa, dalam mempelajari dan memahami dunia dalam diri siswa. Guru bimbingan dan konseling (konselor) juga bekerja sebagai perancang dan pengembang kurikulum dalam pengembangan kognitif, afektif, dan perkembangan serta pertumbuhan fisik. Kurikulum yang dikembangkan konselor menitikberatkan pada pembelajarann manusia dan pemanusiaan peserta didik. Secara operasional, konselor merupakan anggota tim yang terdiri atas orangtua, guru, pengelola, dan spesialis lainnya. Tugas mereka membantu siswa untuk belajar. Siswa yang memiliki kesulitan hendaknya tetap belajar, dan siswa yang lambat belajar hendaknya dibantu untuk belajar sebanyak mungkin, dengan demikian semua siswa terlibat dalam. proses pembelajaran. Tujuan sekolah adalah pembelajaran. Sedangkan tujuan bimbingan dan konseling perkembangan adalah membantu siswa untuk belajar.
c.       Guru bimbingan dan konseling (konselor) dan guru merupakan fungsionaris bersama dalam program bimbingan perkembangan
Pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) lebih berorientasi pada siswa ketimbang pada pelajaran. Oleh karena itu, konselor dan guru bekerja sama membantu menyelesaikan masalah siswa. Guru bimbingan dan konseling (konselor) membantu guru dalam menelusuri permasalahan siswa, mendengarkan sungguh-sungguh perasaan yang dicurahkan guru, memperjelas, menentukan pendekatan yang akan digunakan, dan membantu mengevaluasi kegiatan pengajaran yang baru.
d.      Kurikulum yang diorganisasikan dan direncanakan merupakan bagian penting dalam bimbingan perkembangan
Seluruh program bimbingan perkembangan hendaknya berisi perencanaan dan pengorganisasian kurikulum yang matang. Sama halnya dengan kurikulum sekolah yang biasa seperti matematika, IPA dan IPS, layanan dasar bimbingan perkembangan berisi tujuan dan sasaran imiuk membantu siswa dalam pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Kurikulum menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal. Materi program berupa kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan self-esteem, motivasi berprestasi, kemampuan pemecahan masalah, perumusan tujuan, perencanaan, efektivitas hubungan antarpribadi, keterampilan berkomunikasi, keefektifan lintas budaya, dan perilaku yang bertanggung jawab.
e.       Program bimbingan perkembangan peduli dengan penerimaan diri, pemahaman diri, dan pengayaan diri (self-enhancement)
Kegiatan dalam bimbingan perkembangan dirancang untuk membantu siswa mengetahui lebih banyak tentang dirinya, menerima dirinya, serta memahami kekuatan pada dirinya.
f.       Bimbingan dan konseling perkembangan memfokuskan pada proses mendorong perkembangan (encouragement)
Metode encouragement diarahkan untuk: (a) menempatkan nilai pada diri siswa sebagaimana dirinya sendiri; (b) percaya pada dirinya, (c) percaya akan kemampuan diri siswa; membangun penghargaan akan dirinya; (d) pengakuan untuk bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh; (e) memanfaatkan kelompok untuk mempermudah dan meningkatkan perkembangan siswa; (f) memadukan kelompok sehingga siswa merasa memiliki tempat dalam kelompok; (g) membantu pengembangan keterampilan secara berurutan dan secara psikologis memungkinkan untuk sukses; (h) mengakui dan memfokuskan pada kekuatan dan aset siswa; dan (i) memanfaatkan minat siswa sebagai energi dalam pengajaran.
g.      Bimbingan perkembangan mengakui pengembangan yang terarah ketimbang akhir perkembangan yang definitif
Guru bimbingan dan konseling (konselor) perkembangan mengakui bahwa perkembangan siswa sebagai suatu proses ”menjadi”, sehingga pertumbuhan fisik dan psikologisnya memiliki berbagai kemungkinan sebelum mencapai masa dewasa.
h.      Bimbingan perkembangan sebagai tim oriented-menuntut pelayanan dari konselor profesional
Keberhasilan program bimbingan perkembangan memerlukan upaya bersama seluruh staf di sekolah. Untuk memperoleh keefektivan maksimum dari program, sekolah hendaknya memiliki akses terhadap pengetahuan dan keterampilan konselor yang terlatih antara lain dalam konseling individual, konseling kelompok, pengukuran, dan perkembangan siswa.
i.        Bimbingan perkembangan peduli dengan indentifikasi awal akan kebutuhan-kebutuhan khusus dari siswa
Guru bimbingan dan konseling (konselor) bekerja sama dengan guru untuk menemukan kebutuhan siswa yang jika tidak terpenuhi akan menjadi kendala dalam kehidupan siswa selanjutnya. Melakukan pendekatan dengan siswa baik secara kelompok maupun individual. Menjalin hubungan erat dengan orangtua merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam melaksanakan indentifikasi kebutuhan siswa.
j.        Bimbingan perkembangan peduli dengan penerapan psikologi
Guru bimbingan dan konseling (konselor) perkembangan tidak sekadar peduli pada asesmen kemampuan anak untuk belajar, melainkan pada bagaimana anak menggunakan kemampuannya.
k.      Bimbingan perkembangan memiliki kerangka dasar dari psikologi anak, psikologi perkembangan, dan teori-teori pembelajaran
Dalam implementasi bimbingan perkembangan mengaplikasi prinsip-prinsip dari psikologi anak, psikologi perkembangan, dan dari teori-teori belajar.
l.        Bimbingan perkembangan mempunyai sifat mengikuti urutan dan lentur
Lentur dalam arti program hendaknya disesuaikan dengan perbedaan individual. Berurutan berarti bahwa program bimbingan dirancang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
Bertolak dari penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling perkembangan adalah upaya pemberian bantuan yang dirancang dengan memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan, minat, dan isu-isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan siswa dan merupakan bagian penting dan integral dari keseluruhan program pendidikan.
2.      Asumsi Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Model bimbingan perkembangan memungkinkan konselor untuk memfokuskan tidak sekadar terhadap gangguan emosional klien, melainkan lebih mengupayakan pencapaian tujuan dalam kaitan penguasaan tugas-tugas perkembangan, menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertentu, dan meningkatkan sumber daya dan kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap pola perkembangan yang optimal dari klien (Blocher, 1987:79).
Menurut Myrick (Muro dan Kottman, 1995:49):
“developmental guidance and counseling are based on the premise that human nature moves individuals sequentially and positively toward self enhancement”

Pendekatan ini juga memiliki asumsi bahwa potensi individu merupakan aset yang berharga bagi kemanusiaan. Dorongan dari dalam ini memerlukan kesepakatan dengan kekuatan dalam lingkungan. Pengembangan kemanusiaan merupakan interaksi individual di mana ia berpijak dengan peraturan, perundangan, dan nilai-nilai yang saling melengkapi.
Menurut Blocher (1974:5) asumsi dasar bimbingan perkembangan, yaitu perkembangan individu akan berlangsung dalam interaksi yang sehat antara individu dengan lingkungannya. Asumsi ini membawa dua implikasi pokok bagi pelaksanaan bimbingan di sekolah, yaitu:
a.       Perkembangan adalah tujuan bimbingan; oleh karena itu para petugas bimbingan di sekolah perlu memiliki suatu kerangka berpikir konseptual untuk memahami perkembangan siswa sebagai dasar perumusan isi dan tujuan bimbingan.
b.      Interaksi yang sehat merupakan suatu iklim perkembangan yang harus dikembangkan oleh petugas bimbingan. Oleh karena itu, petugas bimbingan perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan khusus untuk mengembangkan interaksi yang sehat sebagai pendukung sistem peluncuran bimbingan di sekolah (Sunaryo Kartadinata, 1996:10).
Perkembangan perilaku yang efektif dapat dilihat dari tingkat pencapaian tugas-tugas perkembangan dalam setiap tahapan perkembangan. Oleh karena itu, untuk memahami karakterisfik murid SMP sebagai dasar untuk pengembangan program bimbingan di SMP difokuskan kepada pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Mengkaji tugas-tugas perkembangan merupakan hal yang penting dan menjadi dasar bagi pengembangan dan peningkatan mutu layanan bimbingan.
3.      Tugas Perkembangan Sebagai Dasar Layanan Bimbingan dan Konseling
Pemahaman terhadap tugas-tugas perkembangan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) sangat berguna bagi pendidik. Havighurst (1961:5) mengajukan dua alasan pentingnya pemahaman terhadap konsep tugas-tugas perkembangan bagi pendidik, yaitu:
First, it helps in discovering and stating the purposes of education in school. Education may be conceived as effort of the society, through the school, to help the individual achieve certain of his developmental tasks.
The second use of concept is in the timing of educational efforts. When body is ripe, and society requires, and the self is ready to achieve a certain tasks, the teachable moment has come.

Mengacu pada dua alasan Havighurst tersebut di atas, dalam kacamata bimbingan pemahaman tugas-tugas perkembangan siswa SMP sangat berguna bagi pengembangan program bimbingan dan konseling karena sangat membantu dalam: (a) menemukan dan menentukan tujuan program bimbingan dan konseling di SMP, (b) menentukan kapan waktu upaya bimbingan dapat dilakukan.
Bimbingan dan konseling perkembangan bertolak dari premise bahwa positif regard dan respek terhadap martabat manusia (human dignity) merupakan aspek yang amat penting dalam masyarakat. Guru bimbingan dan konseling (konselor) memiliki tugas untuk mengembangkan potensi dan keunikan individu secara optimal dalam perubahan masyarakat yang global. Dalam program bimbingan yang komprehensif siswa diharapkan memperoleh keterampilan yang penting dalam memberikan kontribusi terhadap masyarakat yang memiliki aneka budaya.
Dalam konteks bimbingan perkembangan, maka perkembangan perilaku yang efektif sebagai tujuan pelaksanaan bimbingan dapat dilihat dari tingkat pencapaian tugas-tugas perkembangan. Memahami karakteristik murid SMP sebagai dasar untuk pengembangan program bimbingan di SMP difokuskan kepada pencapaian tugas-tugas perkembangan murid SMP. Mengkaji tugas-tugas perkembangan merupakan hal yang penting dan menjadi dasar bagi pengembangan dan peningkatan mutu layanan bimbingan. Secara konseptual tugas-tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan dalam melaksanakan tugas tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya (Havighurst, 1961:2).
Mengingat bimbingan merupakan bagian integral dari pendidikan, maka tujuan pelaksanaan bimbingan merupakan bagian tak terpisahkan dari tujuan pendidikan. Tujuan Pendidikan Nasional adalah menghasilkan manusia yang berkualitas yang dideskripsikan dengan jelas dalam UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I Pasal I Ayat 1. ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan memiliki tujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah (UUSPN, dan PP No. 29 Tahun 1990). Pengembangan kehidupan siswa sebagai pribadi sekurang-kurangnya mencakup upaya untuk: (a) memperkuat dasar keimanan dan ketakwaan; (b) membiasakan untuk berperilaku yang baik; (c) memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar; (d) memelihara kesehatan jasmani dan rohani; (e) memberikan kemampuan untuk belajar, dan membentuk kepribadian yang mantap dan mandiri, Pengembangan sebagai anggota masyarakat mencakup: (a) memperkuat kesadaran hidup beragama dalam masyarakat; (b) menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam lingkungan hidup; dan (c) memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat. Pengembangan sebagai warga negara mencakup upaya untuk: (a) mengembangkan perhatian dan pengetahuan hak dan kewajiban sebagai warga negara RI; (b) menanamkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan negara; (c) memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengembangan sebagai umat manusia mencakup upaya untuk: (a) meningkatkan harga diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat; (b) meningkatkan kesadaran tentang HAM; (c) memberikan pengertian tentang ketertiban dunia; (d) meningkatkan kesadaran tentang pentingnya persahabatan antarbangsa; dan (e) mempersiapkan peserta didik untuk menguasai isi kurikulum.
Bertolak dari rumusan Tujuan Pendidikan Nasional, dan tujuan pendidikan dasar dirumuskan seperangkat tugas-tugas perkembangan yang seyogianya dicapai oleh siswa SMP. Secara operasional tugas-tugas perkembangan siswa SMP adalah pencapaian perilaku yang seyogianya ditampilkan siswa SMP yang meliputi: (1) Landasan Kehidupan Religius, (2) Landasan Perilaku Etis, (3) Kematangan Emosional, (4) Kematangan Berpikir, (5) Kesadaran Tanggungjawab, (6) Peran Sosial sebagai Pria atau Wanita, (7) Penerimaan Diri dan Pengembangannya (8) Kemandirian Perilaku Ekonomi, (9) Wawasan dan Persiapan Karier, dan (10) Kematangan Hubungan dengan Teman Sebaya.
Secara khusus layanan.bimbingan di SMP bertujuan untuk membantu siswa agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan aspek pribadi sosial, pendidikan, dan karier sesuai dengan tuntutan lingkungan. Dalam aspek perkembangan pribadi sosial layanan bimbingan membantu siswa agar:
a.       Memiliki pemahaman diri
b.      Mengembangkan sikap positif
c.       Membuat pilihan kegiatan secara sehat
d.      Mampu menghargai orang lain
e.       Memiliki rasa tanggungjawab
f.       Mengembangkan ketrampilan hubungan antarpribadi
g.      Dapat menyelesaikan masalah
h.      Dapat membuat keputusan secara baik.
Dalam aspek perkembangan pendidikan, layanan bimbingan membantu siswa agar dapat:
a.       Melaksanakan cara-cara belajar yang benar
b.      Menetapkan tujuan dan rencana pendidikan
c.       Mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai bakat dan kemampuannya
d.      Memiliki keterampilan untuk menghadapi ujian.
Dalam aspek perkembangan karier, layanan bimbingan membantu siswa agar dapat:
a.       Mengenali macam-macam dan ciri-ciri dari berbagai jenis pekerjaan
b.      Menentukan cita-cita dan merencanakan masa depan
c.       Mengeksplorasi arah pekerjaan
d.      Menyesuaikan keterampilan, kemampuan, dan minat dengan jenis pekerjaan.
4.      Karakteristik Perkembangan Siswa Sekolah Menengah Pertama
Pada usia SMP berada pada masa remaja, masa pubertas atau adolesen. Pada masa ini keadaan fisik, kemampuan berpikir, kondisi emosi, dan perilaku sosial anak berbeda dengan pada masa sebelumnya. Masa remaja merupakan masa peralihan atau transisi antara masa anak dengan dewasa. Meskipun perkembangan aspek-aspek kepribadian telah diawali pada masa-masa sebelumnya, tetapi puncaknya boleh dikatakan terjadi pada masa ini, sebab setclah melewati masa ini, remaja telah berubah menjadi seorang dewasa. Pada masa transisi ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat, terutama dalam perkembangan fisik dan berpikir. Pertambahan tinggi badan remaja sangat cepat, disertai dengan adanya perubahan atau munculnya ciri-ciri kelamin sekunder seperti tumbuhnya bulu-bulu, perkembangan buah dada dan pinggul, serta datangnya menstruasi pada wanita, tumbuhnya jakun serta perubahan suara pada laki-laki.
Sejalan dengan perkembangan fisik, kemampuan berpikir remaja juga berkembang pesat, mereka telah mampu berpikir tahap tinggi, berpikir logis dan rasional. Dalam perkembangan sosial remaja mulai ingin mandiri, mereka ingin melepaskan diri dari ikatan keluarga dan membentuk ikatan dengan teman sebaya. Perubahan-perubahan yang sangat cepat dalam segi fisik dan intelektual (berpikir) rupanya menimbulkan goncangan-goncangan dalam kehidupan emosi remaja. Suasana emosi remaja, terutama remaja awal (usia SMP) mudah sekali berubah, suasana yang riang gembira mudah sekali berubah menjadi rasa sedih yang mendalam, kemanjaan kepada orangtua dengan persoalan sepele bisa berubah menjadi rasa antipati.
a.       Perkembangan Fisk
Salah satu segi perkembangan yang cukup pesat dan tampak dari luar adalah perkembangan fisik. Pada masa remaja perkembangan fisik mereka sangat cepat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa remaja awal (usia SMP) anak-anak ini tampak tinggi-tinggi tetapi kurus, lengan, kaki dan leher mereka panjang-panjang, baru kemudian berat badan mereka mengikuti dan pada akhir masa remaja, proporsi tinggi dan berat badan mereka seimbang. Pada usia 11-12 tahun tinggi badan anak laki-laki dan wanita tidak jauh berbeda, pada usia 12-13 tahun pertambahan tinggi badan anak wanita lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki, tetapi pada usia 14 -15 tahun anak laki-laki akan mengejarnya, sehingga pada usia 18-19 tahun tinggi badan anak laki-laki jauh dari wanita, lebih tinggi sekitar 7 sampai dengan 10 cm. Rata-rata pertambahan tinggi badan masih dapat diperkirakan, tetapi pertambahan berat lebih sulit diperkirakan. Hal itu disebabkan karena besarnya pengaruh faktor luar, seperti kondisi sosial ekonomi, pengaruh komposisi dan gizi makanan. Perubahan yang sangat cepat dalam tinggi ini, tidak berjalan sejajar dengan kekuatan dan keterampilannya. Keduanya agak tertinggal dibandingkan dengan tinggi badan. Anak yang pada usia SD jagoan dalam olahraga, pada usia SMP mengalami sedikit kemunduran karena belum ada penyesuaian dengan perubahan-perubahan fisik yang dialami, gerak-gerik mereka pun tampak kaku dan canggung.
Selain terjadi pertambahan tinggi badan yang sangat cepat, pada masa remaja berlangsung perkembangan seksual yang cepat pula. Perkembangan ini ditandai dengan munculnya ciri-ciri kelamin primer dan sekunder. Ciri-ciri kelamin primer berkenaan dengan perkembangan alat-alat produksi, baik pada pria maupun wanita. Pada awal masa remaja anak wanita mulai mengalami menstruasi dan laki-laki mengalami mimpi basah, dan pengalaman ini merupakan pertanda bahwa mereka telah memasuki masa kematangan seksual. Pengalaman pertama menstruasi pada wanita, seringkali dirasakan oleh remaja sebagai sesuatu yang mengagetkan, menakutkan, menimbulkan rasa cemas, takut dan malu. Adakalanya mereka menutup-nutupi atau menyembunyikan pengalaman tersebut. Penerangan dan bimbingan dari orangtua terutama dari ibu sangat diperlukan menjelang mereka memasuki masa remaja. Pengalaman mimpi basah pertama pada anak pria, juga menimbulkan kekagetan walaupun tidak sebesar pada anak wanita. Setelah pengalaman tersebut biasanya terjadi perubahan perhatian dan perasaan terhadap lawan jenis. Ciri-ciri kelamin sekunder, berkenaan dengan tumbuhnya bulu-bulu pada seluruh badan (pada bagian tertentu lebih cepat dan lebat), perubahan suara menjadi semakin rendah-besar (lebih-lebih pada pria), membesarnya buah dada dan puting susu pada wanita, tumbuhnya jakun pada pria. Dengan perkembangan ciri-ciri kelamin sekunder ini, secara fisik remaja mulai menampakkan ciri-ciri orang dewasa.
Masih dalam kaitan dengan perkembangan fisik, pada masa remaja juga terjadi perkembangan hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar endocrine yang masuk dalam darah. Hormon yang terpenting yang berkaitan dengan perkembangan kehidupan seksual adalah testoterone dan estrogen. Keduanya ada, baik pada pria maupun wanita, tetapi konsentrasi yang tinggi dari testosterone ada pada pria, sehingga sering disebut sebagai hormon kepriaan dan estrogen terkonsentrasi tinggi pada wanita disebut hormon kewanitaan. Memang kedua jenis hormon tersebut memengaruhi perkembangan karakteristik kepriaan dan kewanitaan. Hormon tersebut tidak hanya memengaruhi perkembangan seksual, tetapi juga pertumbuhan fisik.
Testosterone merangsang pertumbuhan otot dan tulang-tulang, baik pada pria maupun wanita. Sampai dengan usia sekolah dasar pertumbuhan otot dan tulang keduanya sama, tetapi pada masa remaja terdapat perbedaan. Pertumbuhan otot-otot dan tulang-tulang pria lebih besar dan panjang dibandingkan wanita. Perbedaan keduanya diperbesar oleh pengaruh dari lingkungan. Pria dituntut dan mereka mengerjakan pekerjaan dan latihan-latihan yang banyak menggunakan otot, sehingga pertumbuhan otot dan tulang-tulang mereka menjadi lebih pesat.
Estrogen merangsang pertambahan penyimpanan lemak di bawah kulit, dan mendorong pematangan tulang-tulang sehingga mencapai bentuk dan kekuatan sebagai orang dewasa. Dalam usia sekolah dasar pria dan wanita dengan rangsangan estrogen memiliki jumlah lemak yang hampir sama, sekitar seperlima dari tubuhnya, tetapi pada masa pubertas, pertambahannya menjadi berbeda. Pertambahan timbunan lemak pada wanita lebih banyak dibandingkan pria. Hal itulah yang menimbulkan penampilan pria berbeda dengan wanita. Pria tampil lebih kekar, otot dan kulitnya lebih kasar, sedang wanita lebih lembut, licin, dan halus. Sudah tentu kelembutan dan kehalusan otot dan kulit wanita akan berkurang apabila dia melakukan pekerjaan dan latihan-latihan kekuatan otot yang keras. Demikian juga halnya pada pria, kekuatan dan kekasaran otot dan kulitnya akan berkurang apabila dia jarang sekali melakukan pekerjaan dan latihan-latihan kekuatan otot.
Bertolak dari perkembangan fisik ini, maka karakteristik profil perkembangan fisik dan perilaku psikomotorik siswa SMP (remaja awal) adalah sebagai berikut: (Abin Syamsuddin Makmun, 1996: 92):
Tabel 3.1 Karaktieristik Perkembangan Fisik Siswa SMP
No
Siswa SMP (Remaja Awal)
Keterangan
1
Laju perkembangan secara umum berlangsung secara pesat

2
Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering kurang seimbang (termasuk otot dan tulang belulang)

3
Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbuh bulu pada pubic region, otot mengembang pada baglan-bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis (menstruasi pada wanita & polasi pada pria pertama kali)

4
Gerak-gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan

5
Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan yang dicobanya


b.      Perkembangan Intelek
Sejalan dengan perkembangan fisik yang cepat, berkembang pula kemampuan berpikirnya. Pada usia sekolah dasar, kemampuan berpikir anak masih berkenaan dengan hal-hal yang konkret atau berpikir konkret, pada masa SMP mulai berkembang kemampuan berpikir abstrak, remaja mampu membayangkan apa yang akan dialami bila terjadi suatu peristiwa umpamanya perang nuklir, kiamat, dan sebagainya. Remaja telah mampu berpikir jauh melewati kehidupannya baik dalam dimensi ruang maupun waktu. Berpikir abstrak adalah berpikir tentang ide-ide, yang oleh Jean Piaget seorang ahli Psikologi dari Swiss disebutnya sebagai berpikir formal operasional.
Berkembangnya kemampuan berpikir formal operasional pada remaja ditandai dengan tiga hal penting. Pertama, anak mulai mampu melihat (berpikir) tentang kemungkinan-kemungkinan. Kalau pada usia sekolah dasar anak hanya mampu melihat kenyataan, maka pada usia remaja mereka telah mampu berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan. Kedua, anak telah mampu berpikir ilmiah. Remaja telah mampu mengikuti langkah-langkah berpikir ilmiah, dari mulai merumuskan masalah, membatasi masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan dan mengolah data sampai dengan menarik kesimpulan-kesimpulan. Ketiga, remaja telah mampu memadukan ide-ide secara logis. Ide-ide atau pemikiran abstrak yang kompleks telah mampu dipadukan dalam suatu kesimpulan yang logis.
Secara umum kemampuan berpikir formal mengarahkan remaja kepada pemecahan masalah-masalah berpikir secara sistematik. Dalam kehidupan sehari-hari para remaja demikian juga orang dewasa jarang menggunakan kemampuan berpikir formal, walaupun mereka sebenarnya rnampu melaksanakannya. Mereka lebih banyak berbuat berdasarkan kebiasaan, perbuatan atau pemecahan rutin. Hal itu mungkin disebabkan karena tidak adanya atau kurangnya tantangan yang dihadapi, atau mereka tidak melihat hal-hal yang dihadapi atau dialami sebagai tantangan, atau orangtua dan masyarakat tidak membiasakan remaja menghadapi tantangan atau tuntutan yang harus dipecahkan.
Kemampuan berpikir tentang kemungkinan ke depan, mengarahkan remaja kepada pemikiran tentang pekerjaan. Pemikiran tentang pekerjaan berkembang sesuai dengan pertambahan usia. Pada remaja muda (usia SMP) pemikiran tentang pekerjaan masih diwarnai oleh fantasinya, sedang pada remaja dewasa (usia SLTA) telah lebih realistik.
Pada usia sekolah dasar anak sudah memiliki kemampuan mengingat informasi dan keterampilan memproses informasi tersebut. Dengan telah dikuasainya kemampuan berpikir formal, maka keterampilan memproses informasi ini berkembang lebih jauh. Pemrosesan informasi yang mencakup penerimaan informasi oleh alat dria ditahan sebentar kemudian dilanjutkan ke terminal ingatan singkat (TIS) dan diproses lebih lanjut dalam suatu bentuk yang dapat disimpan dalam terminal ingatan lama (TIL). Keterampilan memproses informasi ini pada remaja lebih cepat dan kuat, dan ini sangat memegang peranan penting dalam penyelesaian tugas-tugas pengajaran maupun pekerjaan. Sesuai dengan pelajaran dan tugas-tugas yang mereka hadapi, para remaja mempunyai keunggulan keterampilan, umpamanya mereka sudah mengerti dan dapat mengerjakan dengan benar bentuk tes objektif tanpa penjelasan lagi dari guru, mereka telah mampu mencari hal-hal penting pada waktu membaca buku, mereka telah mempunyai minat terhadap hal-hal khusus umpamanya mata pelajaran atau bidang tertentu. Penguasaan keterampilan memproses informasi ini menyempurnakan atau membulatkan penampilan penguasaan kognitif mereka.
Karakteristik perkembangan intelektual siswa SMP dapat diuraikan dalam tabel 3.2 berikut ini.
Tabel 3.2 Karakteristik Perkembangan Intelektual Siswa SMP
No
Siswa SMP (Remaja Awal)
Keterangan
1
Proses berpikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas) dalam ide-ide atau pemikiran abstrak (meskipun relatif terbatas)

2
Kecakapan dasar umum (general intelligence) menjalani laju perkembangan yang terpesat (terutama bagi yang belajar di sekolah)

3
Kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitude) mulai menunjukkan kecenderungan-kecenderungan lebih jelas.


c.       Pemikiran Sosial dan Moralitas
Ketrampilan berpikir baru yang dimiliki remaja adalah pemikiran sosial. Pemikiran sosial ini berkenaan dengan pengetahuan dan keyakinan mereka tentang masalah-masalah hubungan pribadi dan sosial. Remaja awal telah mempunyai pemikiran-pemikiran logis, tetapi dalam pemikiran logis ini mereka sering kali menghadapi kebingungan antara pemikirannya sendiri dengan pemikiran orang lain. Menghadapi keadaan ini berkembang pada remaja sikap egosentrisme, yang berupa pemikiran-pemikiran subjektif logis dirinya tentang masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam masyarakat atau kehidupan pada umumnya. Egosentrisme remaja sering kali muncul atau diperlihatkan dalam hubungan dengan orang lain, mereka tidak dapat memisahkan perasaan dia dan perasaan orang lain tentang dirinya. Remaja sering berpenampilan atau berperilaku mengikuti bayangan atau sosok gang-nya. Mereka sering membuat trik-trik atau cara-cara untuk menunjukkan kehebatan, kepopuleran atau kelebihan dirinya kepada sesama remaja. Para remaja seringkali membuat atau memiliki cerita atau dongeng pribadi, yang menggambarkan kehebatan dirinya. Cerita-cerita yang mereka baca atau dengar coba diterapkan atau dijadikan cerita dirinya.
Secara berangsur-angsur remaja mengurangi sifat egosentrisme-nya, dalam hubungan pribadinya berkembang etika pribadi mereka, berkenaan dengan pengetahuan dan penghayatan tentang apa yang baik dan yang jahat. Ada dua aspek nilai yang menjadi perhatian utama para remaja, yaitu nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan. Pada wanita dan pria walaupun tidak terlalu ekstrem ada sedikit perbedaan mengenai nilai-nilai tersebut. Kedua jenis mengembangkan kedua nilai, tetapi pria lebih peduli terhadap nilai-nilai keadilan dan kejujuran sedangkan wanita terhadap nilai-nilai kesejahteraan, baik dalam lingkup keluarga, hubungan sebaya maupun masyarakat.
Dalam perkembangan nilai-nilai keadilan dan kejujuran, remaja kurang oportunistik dibandingkan dengan masa sebelumnya. Secara berangsur telah berkurang penilaian yang didasarkan atas ganjaran dan hukuman langsung atas dasar pengalaman dirinya, walaupun masih dalam tahap konvensional (Kohlberg). Para remaja umumnya dalam memberikan penilaian terhadap suatu situasi masih berpegang pada prinsip-prinsip yang berlaku dalam kehidupan kekerabatan dan sebaya serta peraturan-peraturan kenegaraan. Baru pada menjelang akhir masa remaja, mereka mampu berpegang pada nilai-nilai yang lebih tinggi (pasca konvensi Kohlberg).
Pada masa remaja rasa kepedulian terhadap kepentingan dan kesejahteraan orang lain cukup besar, tetapi kepedulian ini masih dipengaruhi oleh sifat egosentrisme. Mereka belum bisa membedakan kebahagiaan atau kesenangan yang dasar (hakiki) dengan yang sesaat, memerhatikan kepentingan orang secara umum atau orang-orang yang dekat dengan dia. Sebagian remaja sudah bisa menyadari bahwa membahagiakan orang lain itu perbuatan mulia, tetapi itu hal yang sulit, mereka mencari keseimbangan antara membahagiakan orang lain dengan kebahagiaan dirinya. Pada masa remaja juga telah berkembang nilai moral berkenaan dengan rasa bersalah, telah tumbuh pada mereka bukan saja rasa bersalah karena berbuat tidak baik, tetapi juga bersalah karena tidak berbuat baik.  Dalam perkembangan nilai moral ini, masih tampak adanya kesenjangan. Remaja sudah mengetahui nilai atau prinsip-prinsip yang mendasar, tetapi mereka belum mampu melakukannya, mereka sudah menyadari bahwa membahagiakan orang lain itu adalah baik, tetapi mereka belum mampu melihat bagaimana merealisasikannya.
Profil perkembangan pemikiran sosial dan moralitas siswa SMP dipetakan seperti tampak pada tabel 3.3 berikut ini:
Tabel 3.3 Karakteristik Perkembangan Pemikiran Sosial dan Moralitas Siswa SMP
No
Siswa SMP (Remaja Awal)
Keterangan
1
Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak tetapi bersifat temporer

2
Adanya ketergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat komformitas yang tinggi

3
Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orangtua dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orangtuanya

4
Dengan sikapnya dan cara berpikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya (orang dewasa)

5
Mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya


d.      Perkembangan Pemikiran Politik
Perkembangan pemikiran politik remaja hampir sama dengan perkembangan moral, karena memang keduanya berkaitan erat. Remaja telah mempunyai pemikiran-pemikiran politik yang lebih kompleks dari anak-anak sekolah dasar. Mereka telah memikirkan ide-ide dan pandangan politik yang lebih abstrak, dan telah melihat banyak hubungan antar hal-hal tersebut. Mereka dapat melihat pembentukan hukum dan peraturan-peraturan legal secara demokratis, dan melihat hal-hal tersebut dapat diterapkan pada setiap orang di masyarakat, dan bukan pada kelompok-kelompok khusus. Pemikiran politik ini jelas menggambarkan unsur-unsur kemampuan berpikir formal operasional dari Piaget dan pengembangan lebih tinggi dari bentuk pemikiran moral Kohlberg. Remaja juga masih menunjukkan adanya kesenjangan dan ketidakajegan dalam pemikiran politiknya. Pemikiran politiknya tidak didasarkan atas prinsip ”seluruhnya atau tidak sama sekali”, sebagai ciri kemampuan pemikiran moral tahap tinggi, tetapi lebih banyak didasari oleh pengetahuan-pengetahuan politik yang bersifat khusus. Meskipun demikian pemikiran mereka sudah lebih abstrak dan kurang bersifat individual dibandingkan dengan usia anak sekolah dasar.
e.       Perkembangan Agama dan Keyakinan
Perkembangan kemampuan berpikir remaja memengaruhi perkembangan pemikiran dan keyakinan tentang agama. Kalau pada tahap usia sekolah dasar pemikiran agama ini bersifat dogmatis, masih dipengaruhi oleh pemikiran yang bersifat konkret dan berkenaan dengan sekitar kehidupannya, maka pada masa remaja sudah berkembang lebih jauh, didasari pemikiran-pemikiran rasional, menyangkut hal-hal yang bersifat abstrak atau gaib dan meliputi hal-hal yang lebih luas. Remaja yang mendapatkan pendidikan agama yang intensif, bukan saja telah memiliki kebiasaan melaksanakan kegiatan peribadatan dan ritual agama, tetapi juga telah mendapatkan atau menemukan kepercayaan-kepercayaan khusus yang lebih mendalam yang membentuk keyakinannya dan menjadi pegangan dalam merespons terhadap masalah-masalah dalam kehidupannya. Keyakinan yang lebih luas dan mendalam ini, bukan hanya diyakini atas dasar pemikiran, tetapi juga atas keimanan. Pada masa remaja awal gambaran Tuhan masih diwarnai oleh gambaran tentang ciri-ciri manusia, tetapi pada masa remaja akhir gambaran ini telah berubah ke aiah gambaran sifat-sifat Tuhan yang sesungguhnya.
Karakteristik perkembangan agama dan keyakinan siswa SMP adalah sebagai berikut.
Tabel 3.4 Karakteristik Perkembangan Agama dan Keyakinan Siswa SMP
No
Siswa SMP (Remaja Awal)
Keterangan
1
Mengenai eksistensi (keberadaan), sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis

2
Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan mungkin didasarkan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya

3
Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidupnya


5.      Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Siswa SMP
“Ma ... tolong saya. Saya ... kecanduan putauw”.
Cuma dua kalimat pendek itulah yang meluncur dari bibir Gambit. Selebihnya ia menangis sesenggukan, memeluk lutut ibunya dengan tangan gemetar. Sejurus Ibu Suryani, Ibu Gambit, terpaku. Tak adasatu pun yang dapat dilakukan selain diam mematung. Sementara tangis Gambit semakin hebat. ”Tidak mungkin! Hatiku meronta dan sibuk menolak perkataan Gambit,” ucap Suryani. Masih dalam. Keadaan limbung Gambit dipeluk erat. Dia memanggil putra sulungnya, Ambi. Ambi cuma membelalakkan matanya mendengar igauan adiknya, ”Benar .... Saya enggak bohong. Saya sudah terjerat putauw ... Saya sudah tidak tahan,” tangis Gambit meledak lagi. ”Di depan mataku dua kakak-beradik berangkulan, Ya Tuhan ...! Ini sebuah bencana.” Air mata Suryani pun membanjir. Bayangkan saja, Gambit, bocah 15 tahun yang sebelumnya ia lihat berperilaku normal dan berprestasi stabil di sekolah, ternyata telah terjerat serbuk putih yang memabukkan itu (Suara Republika, 28 Agustus 1999).
Itulah sekelumit kisah yang sengaja dicuplik, untuk memberikan gambaran betapa rawannya usia remaja terhadap pengaruh dari lingkungan? Apakah perilaku remaja itu hanya dari lingkungan saja? Atau dengan pertanyaan lain faktor-faktor apakah yang memengaruhi perkembangan anak usia sekolah menengah?
Menjawab pertanyaan faktor-faktor apakah yang memengaruhi perkembangan anak usia sekolah menengah, pada dasarnya bukan hal yang mudah. Karena di balik pertanyaan itu, tersirat pertanyaan yang lebih mendasar, apakah perilaku manusia itu dipengaruhi oleh faktor bawaan atau faktor lingkungan. Sekiranya dipengaruhi faktor lingkungan, lingkungan yang mana yang paling berpengaruh, apakah lingkungan rumah atau lingkungan di luar rumah?
Pertanyaan seperti itu, pada dasarnya telah menjadi pertanyaan para ahli sejak abad ke-17 yang lalu. Thomas Hobbes (1588-1679 dalam Sigelman dan Shaffer, 1995:29) berpendapat bahwa anak-anak secara alamiah adalah berperilaku nakal, pengganggu, dan sebagainya. Menjadi tugas masyarakatlah untuk mengontrol perilaku anak, dan mengajar mereka sehingga berperilaku baik. Sebaliknya, Jean Jacques Rousseau (1712-1778) berpendapat bahwa anak secara alamiah adalah baik, sejak lahir secara naluriah anak mampu membedakan mana perilaku yang baik dan yang buruk. Lingkungan bertugas untuk memberikan arahan agar anak berperilaku baik. Dalam perkembangan lebih lanjut pandangan yang beranggapan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh faktor pembawaan (heredity) dikenal dengan mazhab nativisme.
Filosof dari Inggris, John Locke (1632-1704) terkenal dengan teori tabula rasa. Anak bagaikan kertas putih yang menunggu untuk ditulisi melalui pengalamannya. Locke menyangkal bahwa anak itu sejak lahir baik atau buruk, tetapi ia akan berkembang bergantung pada pengalaman yang ia peroleh. Saat ini pandangan ini dikenal dengan mazhab empirisme.
Di antara. dua poros nativisme dan empirisme akhirnya muncul poros tengah yang berupaya mengakomodasikan kedua mazhab. Mazhab ini dikenal dengan konvergensi. Menurut penganut konvergensi bahwa. perilaku manusia dipengaruhi baik oleh pembawaan maupun oleh lingkungan. Tokoh yang mengembangkan teori konvergensi adalah William James (1742-1804). Teori inilah yang dianut oleh kebanyakan ahli saat ini, dan mewarnai pembahasan selanjutnya dalam modul ini. Untuk lebih jelasnya Anda dapat membuka-buka kembali materi pada Modul 1.
Menurut Papalia dan Olds (1992:7-8) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu dapat dikategorikan ke dalam faktor internal melawan faktor eksternal, dan pengaruh normatif melawan pengaruh bukan normatif. Faktor internal adalah faktor pembawaan sejak lahir yang disebut heredity. Faktor heredity ini adalah segala yang dibawa sejak lahir, yang diterima anak dari orangtuanya. Sementara itu, yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berpengaruh terhadap diri individu yang berasal dari lingkungan (environment influences). Faktor lingkungan ini diperoleh individu berdasarkan pengalamannya selama berperilaku dalam lingkungan di luar dirinya.
Beberapa peneliti seperti Baltes, Reese, dan Lipsitt (Papalia dan Olds, 1992:8) mencoba memilahkan pengaruh terhadap perkembangan individu itu menjadi pengaruh normatif dan pengaruh non-normatif. Disebut pengaruh normatif jika pengaruh terhadap kebanyakan orang dalam kelompok tertentu adalah sama. Sebagai contoh pengaruh tingkatan usia disebut pengaruh normatif karena pengaruh lingkungan dan pengaruh biologis terhadap perkembangan adalah sama terhadap sekelompok manusia pada tingkatan usia yang sama, kapan pun dan di mana pun individu hidup. Pengaruh-pengaruh tersebut termasuk peristiwa biologis seperti masa puber dan masa menopause.
Peristiwa kehidupan yang non-normatif adalah peristiwa yang luar biasa yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Kejadian-kejadian seperti meninggalnya orangtua pada saat anak masih muda, sakit parah, dan kelainan dalam kelahiran akan berpengaruh terhadap kehidupan anak.
Baik pengaruh normatif maupun pengaruh non-normatif terhadap individu terjadi pada tingkatan lingkungan tertentu. Pandangan seperti ini dikenal dengan pendekatan ekologis terhadap perkembangan (ecological approach to development). Menurut Urie Bronfenbrenne (Papalia dan Olds, 1992:9) terdapat empat tingkatan pengaruh lingkungan yang merentang dari lingkungan yang paling intim sampa lingkungan yang sangat global. Dengan demikian, untuk memahami perkembangan individual, hendaknya memahami masing-masing individu dalam konteks lingkungan yang ganda. Keempat tingkatan pengaruh lingkungan tersebut mencakup:
Pertama, pengaruh lingkungan sistem mikro (micro system), yaitu lingkungan kehidupan sehari-hari, seperti lingkungan sekolah, lingkungan rumah, dan Lingkungan tempat kerja. Termasuk di dalamnya suasana pergaulan dengan orangtua, guru-guru, lingkungan teman sebaya, dan sebagainya. Sikap guru dalam mengajar akan berpengaruh terhadap perilaku siswa di sekolah. Sering dijumpai siswa yang membenci mata pelajaran Fisika, Kimia, dan sebagainya, disebabkan ia memperoleh pengalaman kurang menyenangkan dari guru pengajar mata pelajaran yang bersangkutan. Kita cukup getir mendengar pengakuan salah scorang pelajar di Jakarta yang suka tawuran, karena dikondisikan oleli kakak-kakak seniornya. Ketika terjadi tawuran, ia bagaikan tameng bagi kakak-kakak senior, terjepit di antara dua kekuatan besar, di depan menghadapi musuh dari sekolah lain, di belakang ada kakak-kakak senior yang siap menyergap jika ia berusaha mundur.
Kedua, pengaruh lingkungan sistem meso (mezzo system), yaitu keterkaitan antarvariasi tingkatan sistem yang melibatkan individu didalamnya. Perilaku siswa sekolah menengah akan dipengaruhi oleh keterkaitan antara lingkungan rumah dengan lingkungan sekolah, pengaruh keterkaitan lingkungan rumah dengan lingkungan masyarakat. Meskipun aturan tata tertib di sekolah dilaksanakan dengan ketat, toh tidak sedikit siswa yang menyalahgunakan obat terlarang, karena terpengaruh oleh kelompok gang siswa yang bersangkutan di masyarakat.
Ketiga, pengaruh lingkungan sistem exo (exo system) adalah pengaruh institusi lingkungan yang lebih besar, seperti pengaruh sekolah, pengaruh media massa, bahkan pengaruh lingkungan pemerintahan. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana perilaku seks bebas di kalangan pelajar telah melanda tidak saja remaja di kota-kota besar, namun telah merambah pula ke kota-kota pinggiran bahkan ke desa. Biang keladi yang ditenggarai banyak meracuni perilaku remaja ini adalah media massa yang terlalu vulgar.
Keempat, pengaruh lingkungan yang paling luas adalah pengaruh sistem makro (macro system). Ada keterkaitan erat pengaruh dari kebudayaan, pengaruh agama, pendidikan, politik dan pengaruh keadaan sosial ekonomi terhadap perkembangan individu. Kita menjadi prihatin mencermati perilaku siswa-siswa sekolah menengah di Timor-Timur (ketika masih menjadi bagian dari RI) yang begitu tega menganiaya guru, hanya karena pengaruh perbedaan politik.
Pandangan ekologis dalam perkembangan menekankan peranan sistem baik di dalam keluarga maupun sistem di luar keluarga yang berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Dalam pola pandangan yang konvensional, diyakini bahwa terdapat tiga faktor dominan yang memengaruhi proses perkembangan anak usia sekolah menengah. Ketiga faktor itu adalah: faktor pembawaan (heredity), faktor lingkungan (environment), dan faktor waktu (time). Faktor pembawaan adalah faktor yang bersifat alamiah (nature), faktor lingkungan yang memungkinkan proses perkembangan (nurture), sedangkan faktor waktu adalah saat tibanya masa peka atau kematangan (maturation).
Ketiga faktor dominan yang memengaruhi perkembangan pribadi anak usia sekolah menengah dapat dirumuskan secara fungsional sebagai berikut:.
P = f (H, E, T)
P adalah Person, yaitu perilaku atau pribadi anak sekolah menengah sebagai perwujudan dari perkembangan. f adalah fungsi dari H = Heredity atau pembawaan, E = Environment yaitu lingkungan sekitar individu, dan T = Time, yaitu saat tibanya masa peka atau kematangan. Dengan demikian, perkembangan pribadi anak merupakan fungsi dari pembawaan, lingkungan, dan kematangan aspek perkembangan itu sendiri.
Upaya belajar akan mendapatkan hasil yang optimal sekiranya dilakukan pada saat kematangan dalam perkembangan fisik dan psikologis tiba. Sebagai contoh: pada usia sebelum memasuki masa remaja (kurang lebih 12-14 tahun) merupakan masa yang sangat peka untuk memulai mengajarkan bahasa (Lonnerberg, dalam Papalia dan Olds, 1992:10).
Di pihak lain, pada usia sekolah menengah dalam pengembangan kemampuan berbahasa ini dapat menimbulkan masalah lain. Bagi individu-individu tertentu, mempelajari bahasa asing bukanlah merupakan hal yang menyenangkan. Keinginan untuk berbahasa asing sangat tinggi, sementara kemampuan tidak menunjang, akhirnya mereka cas-cis-cus menggunakan bahasa prokem yang hanya dipahami oleh kalangan mereka sendiri. Kelemahan-kelemahan dalam fonetik bahasa asing, juga dapat merupakan bahan cemoohan kawan-kawannya. Akhirnya, mereka memiliki sikap negatif kepada pelajaran bahasa asing. Tidak mengherankan jika relatif banyak siswa sekolah menengah yang alergi terhadap pelajaran bahasa asing.
Pada usia remaja lingkungan yang sangat berpengaruh adalah kelompok. Dari pergaulannya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada orang dewasa, belajar bekerja sama, mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya, belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajari olahraga dan permainan kelompok, belajar keadilan demokrasi.
Faktor pengaruh kelompok ini ditenggarai sebagai faktor dominan yang berpengaruh terhadap perilaku remaja. Remaja lebih patuh terhadap aturan dan norma kelompok sebaya, bahkan jika dibandingkan dengan kepatuhan terhadap peraturan di dalam keluarga. Simak kasus Gambit seperti yang dikisahkan pada awal kegiatan belajar kedua ini. Di rumah Gambit menunjukkan perilaku yang baik, namun karena pengaruh kelompok sebaya ia terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba (narkotika dan obat bius).
Bertolak dari gambaran di atas tampak bahwa keterikatan hidup siswa sekolah menengah dalam kelompok, rawan untuk menimbulkan kenakalan remaja, seperti perkelahian antarsekolah, tindak pencurian, perilaku seks bebas, penyalahgunaan obat bius, dan bentuk-bentuk perilaku anti sosial lainnya. Namun, sekiranya pada masa ini mendapat bimbingan yang memadai justru akan menjadikan remaja yang berguna. Seperti siswa sekolah menengah yang bisa menjadi juara Olimpiade Fisika. Oleh karena itu, pada masa sekolah menengah ini merupakan masa krisis yang disebut the best of time atau the worst of time (Conger dalam Abin Syamsuddin M, 1996:91). Kalau individu mampu mengatasi berbagai tuntutan yang dihadapi secara integratif, ia akan menemukan identitasnya yang akan dibawanya menjelang masa dewasanya. Sebaliknya, kalau gagal ia akan berada pada krisis identitas (identity crisis) yang berkepanjangan.
Pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan anak usia sekolah menengah, dapat menambah wawasan bagi calon guru sekolah menengah untuk memahami perilaku siswa sekolah menengah. Perkembangan perilaku dan pribadi siswa sekolah menengah merupakan perwujudan pengaruh dari ketiga faktor dominan, yaitu faktor bawaan, kematangan, dan faktor lingkungan termasuk belajar dan latihan. Ketiga faktor tersebut berpengaruh terhadap siswa secara khas dan bervariasi yang mungkin dapat menguntungkan atau menghambat laju proses perkembangan.
6.      Tugas-tugas Perkembangan Siswa Sekolah Menengah Pertama
Tugas-tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan dalam melaksanakan tugas tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Havighurst, (1961:2) menyatakan bahwa:
A developmental task is a task which arises at or abouttainc period in the life of the individual, successful achievement of which leads to his happiness and to success with later tasks, while failure leads to unhappyness in the individual, disapproval by the society, and difficult with later tasks.

Tugas-tugas tersebut bersumber dari kematangan fisik, lingkungan kebudayaan, keinginan, aspirasi, dan nilai-nilai kepribadian yang sedang tumbuh.
Bertolak dari rumusan Tujuan Pendidikan Nasional, dan tujuan pendidikan dasar dirurnuskan seperangkat tugas-tugas perkembangan yang seyogianya dicapai oleh siswa SMP. Secara operasional tugas-tugas perkembangan siswa SMP adalah pencapaian perilaku yang seyogianya ditampilkan siswa SMP yang meliputi: (1) Landasan Kehidupan Religius, (2) Landasan Perilaku Etis, (3) Kematangan Emosional, (4) Kematangan Berpikir, (5) Kesadaran Tanggung Jawab, (6) Peran Sosial sebagai Pria atau Wanita, (7) Penerimaan Diri dan Pengembangannya, (8) Kemandirian Perilaku Ekonomi. (9) Wawasan dan Persiapan Karier, dan (10) Kematangan Hubungan dengan Teman Sebaya.
Rincian dari perilaku pada masing-masing tugas perkembangan adalah sebagai berikut.
a.       Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
1)      Berdoa kepada Tuhan
2)      Belajar Agama
3)      Sabar
4)      Syukur
b.      Etika
1)      Menyayangi orang lain
2)      Rendah hati
3)      Kejujuran
4)      Disiplin
c.       Kemandirian emosional
1)      Suasana emosional menghadapi kekecewaan
2)      Suasana emosional dalam interaksi sosial
3)      Suasana emosional menghadapi ancaman
4)      Menghargai orangtua tanpa bergantung padanya
d.      Kematangan intelektual
1)      Berpikir kritis
2)      Membuat keputusan
3)      Musyawarah (Demokratis)
4)      Memahami hak dan kewajiban siswa
e.       Perilaku yang bertanggung jawab
1)      Berpartisipasi dalam kegiatan sosial di sekolah
2)      Berpartisipasi dalam kegiatan sosial di masyarakat
3)      Menolong orang lain
4)      Menjalin persahabatan dengan teman
f.       Peran sosial sebagai pria atau wanita
1)      Berpenampilan sesuai dengan jenis kelamin sendiri
2)      Bekerja sesuai dengan jenis kelamin sendiri
3)      Mempersiapkan karier sesuai dengan jenis kelamin sendiri
4)      Mempelajari peranan pria atau wanita di masyarakat
g.      Penerimaan diri dan pengembangannya
1)      Keadaan fisik
2)      Bakat (kemampuan khusus)
3)      Sifat
4)      Prestasi
h.      Kemandirian ekonomi
1)      Menabung
2)      Mengatur uang
3)      Bekerja keras (sungguh-sungguh)
4)      Mengatur waktu
i.        Persiapan karier
1)      Informasi sekolah lanjutan
2)      Informasi kursus
3)      Informasi syarat-syarat pekerjaan
4)      Kegiatan ekstra kurikuler yang mendukung pekerjaan
j.        Kematangan hubungan dengan teman sebaya
1)      Bekerja sama
2)      Hubungan antarpribadi
3)      Berperan dalam kelompok
4)      Penempatan diri sesuai dengan jenis kelamin dalam kelompok
F.     Soal-soal Latihan
Bubuhkan tanda silang pada salah satu alternatif jawaban yang paling benar!
1.      Ciri-ciri perkembangan fisik pada masa remaja adalah:
a.       pertambahan tinggi badan yang sangat cepat
b.      munculnya ciri-ciri kelamin sekunder
c.       perubahan suara pada laki-laki
d.      tidak ada yang benar
e.       semua benar
2.      Matangnya organ reproduksi pada remaja merupakan ciri perkembangan fisik yang :
  1. primer
  2. sekunder
  3. tersier
  4. semua benar
  5. semua salah
3.      Ciri perkembangan berpikir pada masa remaja:
  1. berpikir konkret
  2. berpikir logis
  3. telah mampu berpikir tahap tinggi
  4. a dan b benar
  5. b dan c benar
4.      Ciri perkembangan sosial masa remaja
  1. mulai ingin mandiri
  2. membentuk ikatan dengan keluarga
  3. membentuk ikatan dengan teman sebaya
  4. a dan b benar
  5. a dan c benar
5.      Hormon kewanitaan disebut:
  1. estrogen
  2. testosterone
  3. endokrin
  4. hemaglobin
  5. endurance
6.      Yang termasuk operasi kaidah-kaidah logika berpikir formal pada remaja adalah:
  1. asosiasi
  2. diferensiasi
  3. komparasi
  4. kausalitas
  5. semua benar
7.      Alur pemrosesan informasi yailg benar adalali:
  1. penerimaan oleh alat dria-terminal informasi singkat (TIS) terminal informasi lama (TIL)
  2. alat dria-TIL-TIS
  3. TIS-TIL-alat dria
  4. TIL-TIS-alat dria
  5. TIL-alat dria-TIS
8.      Pengembangan nilai-nilai yang lebih menonjol pada pria adalah:
  1. kejujuran
  2. kesejahteraan
  3. keadilan
  4. a dan c benar
  5. semua benar
9.      Ciri perkembangan politik masa remaja adalah:
  1. memikirkan ide-ide dan pandangan politik yang lebih abstrak,
  2. melihat banyak hubungan antarhal
  3. melihat pembentukan peraturan-peraturan legal secara demokratis
  4. melihat hukum dapat diterapkan pada setiap orang di masyarakat
  5. semua benar
10.  Ciri perkembangan agama anak usia sekolah menengah adalah:
  1. pemikiran agama bersifat konkret
  2. pemikiran agama didasari pemikiran rasional
  3. pemikiran agama bersifat dogmatis
  4. semua benar
  5. semua salah
11.  Profil perkembangan agama remaja akhir (siswa sekolah menengah) adalah:
  1. keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis
  2. penghayatan kehidupan keagamaan dilakukan atas pertimbangan dari luar dirinya
  3. mulai menemukan pegangan hidup yang definitif
  4. semua benar
  5. semua salah
12.  Tokoh yang memiliki anggapan bahwa sejak lahir anak adalah pengganggu dan berperilaku nakal, adalah:
  1. John Locke
  2. Thomas Hobbes
  3. Jacques Rousseau
  4. William James
  5. Pestalozzi
13.  Aliran pendidikan yang berpendapat bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak disebut:
  1. naturalisme
  2. tabularasa
  3. empirisme
  4. heredity
  5. konvergensi
14.  Tokoh aliran pendidikan konvergensi adalah:
  1. John Locke
  2. Thomas Hobbes
  3. Jacques Rousseau
  4. William James
  5. Pestalozzi
15.  Pengaruh lingkungan terhadap kebanyakan orang dalam kelompok tertentu adalah sama disebut pengaruh:
  1. introvert
  2. internal
  3. eksternal
  4. normatif
  5. non-normatif
16.  Sistem pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak usia sekolah menengah adalah:
  1. sistem mikro (micro system)
  2. sistem mezo (mezzo system)
  3. sistem exo (exo system)
  4. sistem makro (macro system)
  5. semua benar
17.  Masa individu remaja mampu mengatasi berbagai tuntutan yang dihadapi secara integratif disebut:
  1. the worst of time
  2. the best of time
  3. identity crisis
  4. Sturm und Drang
  5. semua betul
G.    Daftar Rujukan
Abin Syamsuddin Makmun. (1996). Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosda Karya.
Ahman. (1998). Bimbingan Perkembangan: Model Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar, Disertasi PPS IKIP Bandung
Elkind, David. (1992). Developmentally Appropriate Practice. Philosophical and Practical Implications.
Gage, N.L and Berliner, David C. (1984) Educational Psychology. Boston: Houghton Mifflin Company
Havighurst, Robert J. (1961). Human Development and Education. New York: Longmans Green and Co.
Muro, J.James and Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in Elementary School and Middle School. Iowa: Brown and Benchmark Publisher
Papalia, Diane E., dan Olds, Sally Wendkos. (1992). Human Development. New York: McGraw-Hill, Inc.
Sunaryo Kartadinata, dkk. (2001), Peningkatan Mutu dan Pengembangan Sistem Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Laporan Penelitian RUT VIII LIPPI-UPI Bandung.


PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN
DAN KONSELING DI SEKOLAH
O1eh Prof. Dr. Syamsu Yusuf LN, M.Pd
A.    Pengantar
Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penerapan program bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya.
Peserta didik sebagai individu sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, peserta didik memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Di samping itu, terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan individu tidak selalu berlangsung secara mulus, atau steril dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.
Perkembangan peserta didik tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat inherent lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat memengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan diskontinuitas perkembangan perilaku individu, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga memengaruhi gaya hidup, dan diskontinuitas perkembangan tersebut, di antaranya: ledakan penduduk, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perkembangan struktur masyarakat dari agraris ke industri.
Iklim lingkungan yang kurang sehat ternyata memengaruhi perkembangan pola perilaku atau gaya hidup peserta didik (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah moral (akhlak yang mulia), seperti pelanggaran tata tertib sekolah, tawuran, meminum minuman keras, penyalahgunaan obat-obat terlarang atau Narkoba (narkotika, alkohol, ecstasy, putau, dan sebagainya), kriminalitas, dan pergaulan bebas atau free sex).
Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (2) berakhlak mulia; (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan; (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani; (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri; serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Tujuan ini mempunyai implikasi imperatif bagi semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan untuk memantapkan proses pendidikannya ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Proses pendidikan akan berhasil dengan baik, apabila mengintegrasikan tiga komponen pokoknya, yaitu (1) bidang kepemimpinan atau administrasi; (2) bidang pengajaran; dan (3) bidang bantuan terhadap siswa atau bimbingan dan konseling.
Sesuai dengan trend (kecenderungan) model bimbingan dan konseling yang berkembang dewasa ini, maka bimbingan dan konseling yang dikembangkan adalah yang berbasis tugas-tugas perkembangan, yaitu yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi potensi peserta didik, yang meliputi aspek personal (pribadi), sosial, akademik, dan karier.
B.     Kompetensi
Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru pembimbing (konselor) adalah kemampuan mengelola program bimbingan dan konseling. Rumusan kompelensi (berikut subkompetensi dan indikatornya) tercantum dalam Standar Kompetensi Konselor Indonesia, yang diterbitkan oleh ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) sebagai berikut.
Kompetensi
Sub-Kompetensi
Indikator
K.6.
Memiliki kemampuan mengelola program bimbingan dan konseling
K.6.1.
Memiliki pengetahuan dan keterampilan perencanaan program bimbingan dan konseling
a.  Menerapkan prinsip-prinsip perencanaan
b.  Melakukan penilaian kebutuhan layanan bimbingan dan konseling
c.  Merumuskan tujuan dan menentukan prioritas program bimbingan dan konseling
d. Menyusun program bimbingan dan konseling


K.6.2.
Mampu mengorganisasikan dan mengimplementasikan program bimbingan dan konseling
a.  Mengidentifikasi personalia dan sasaran program bimbingan dan konseling
b.  Mengoordinasikan dan mengorganisasikan sumber daya yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan program bimbingan dan konseling
c.  Melaksanakan program bimbingan dan konseling dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh komponen yang terkait.


K.6.3.
Mampu Mengevaluasi program bimbingan dan konseling
a.  Mengkaji program bimbingan dan konseling berdasarkan standar penyelenggaraan program
b.  Menggunakan pendekatan evaluasi program bimbingan dan konseling
c.  Mengoordinasikan kegiatan evaluasi program bimbingan dan konseling
d. Membuat rekomendasi yang tepat untuk perbaikan dan pengembangan program bimbingan dan konseling
e.  Melaporkan hasil dan temuan-temuan evaluasi penyelenggaraan program bimbingan dan konseling kepada pihak yang berkepentingan
f.   Mengontrol implementasi program bimbingan dan konseling agar senantiasa berjalan sesuai dengan desain perencanaan program


K.6.4.
Mampu mendesain perbaikan dan pengembangan program bimbingan dan konseling
a.  Memanfaatkan hasil evaluasi untuk perbaikan dan pengembangan program bimbingan dan konseling
b.  Menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan program bimbingan dan konseling

Kompetensi yang dikembangkan dalam kali ini incliputi: K.6.1.b,c,d; K.6.2.a,b,c; dan K.6.3.a,b,c.
C.    Strategi Workshop
1.      Ceramah
2.      Diskusi kelompok atau kelas
3.      Simulasi
4.      Pengerjaan tugas-tugas, terutama latihan menyusun rumusan program BK, sesuai dengan format yang tertera pada lampiran II.
5.      Refleksi
D.    Deskripsi Materi
1.      Perumusan Kebutuhan Berdasarkan Hasil Asesmen
Konselor perlu mengidentifikasi dan merumuskan kebutuhan, tugas-tugas dan tingkat perkembangan peserta didik, sebelum merumuskan tujuan dan rancangan program bimbingan dan konseling perkembangan. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi dan merumuskan kebutuhan, yaitu; (1) mengkaji kebutuhan atau masalah peserta didik yang nyata di lapangan; dan (2) mengkaji harapan sekolah dan masyarakat terhadap peserta didik secara ideal. Kebutuhan atau masalah siswa dapat diidentifikasi melalui (1) karakteristik siswa seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, temperamen (periang, pendiam, pemurung, atau mudah tersinggung), dan karakternya (seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab); atau (2) tugas-tugas perkembangannya, sebagai landasan untuk memberikan layanan bimbingan.
Salah satu cara untuk memahami kebutuhan siswa seperti dikemukakan di atas, adalah melalui pengukuran tugas-tugas perkembangannya. Untuk mengetahui tugas-tugas perkembangan siswa ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen pengumpul data yang salah satunya adalah Inventori Tugas-tugas Perkembangan (ITP). ITP ini dikembangkan oleh Sunaryo Kartadinata dkk. melalui penelitian di semua jenjang pendidikan, termasuk SMP, yang telah teruji tingkat validitas dan reliabilitasnya. Untuk mengolah hasil ITP dikembangkan software yang ”computerized”, yaitu Analisis Tugas Perkembangan (ATP). Software ini dirasakan sangat membantu upaya peningkatan efisiensi dan manajemen layanan bimbingan dan konseling di sekolah, karena informasi tentang siswa dapat diketahui secara cepat dan akurat.
2.      Perumusan Tujuan Bimbingan dan Konseling
Tujuan merupakan pernyataan yang menggambarkan hasil yang diharapkan, atau sesuatu yang ingin dicapai melalui berbagai kegiatan yang diprogramkan. Tujuan bimbingan dan konseling merupakan pernyataan yang menggambarkan kualitas perilaku atau pribadi siswa yang diharapkan berkembang melalui berbagai strategi layanan kegiatan yang diprogramkan.
Bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu peserta didik agar memiliki kemampuan menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya. Kemampuan menginternalisasi itu meliputi tiga tahapan, yaitu: pemahaman (awareness), sikap (accommodation), dan keterampilan atau tindakan (action). Berdasarkan pemikiran tersebut, maka rumusan tujuan bimbingan dan konseling itu adalah sebagai berikut.
Aspek Perkembangan
Tahap Internalisasi
Tujuan
1.
Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME
1.
Pengenalan
Mengenal arti dan tujuan ibadah
2.
Akomodasi
Berminat mempelajari arti dan tujuan ibadah
3.
Tindakan
Melakukan berbagai kegiatan ibadah dengan kemauan sendiri
2
Berperilaku etis
1.
Pengenalan
Mengenal jenis-jenis norma dan memahami alasan pentingnya norma dalam kehidupan
2.
Akomodasi
Bersikap positif terhadap norma
3.
Tindakan
Berperilaku sesuai dengan norma yang dijunjung tinggi dalam masyarakat

3
Kematangan emosi
1.
Pengenalan
Mengenal emosi sendiri dan cara mengekspresikannya secara wajar (tidak kekanak-kanakan atau impulsif)
2.
Akomodasi
Berminat untuk lebih memahami keragaman emosi sendiri dan orang lain
3.
Tindakan
Dapat mengekspresikan emosi atas dasar pertimbangan kontekstual (norma/budaya)
4
Kematangan intelektual
1.
Pengenalan
1.  Mengenal cara belaiar yang efektif.
2.  Mengenal cara-cara pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
2.
Akomodasi
1.  Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
2.  Berminat untuk berlatih memecahkan masalah.
3.
Tindakan
1.  Dapat memecahkan masalah dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.
2.  Bertanggungjawab atas risiko yang mungkin terjadi
5
Kesadaran Tanggung Jawab Sosial
1.
Pengenalan
Memahami pentingnya berperilaku yang bertanggungjawab dalam kehidupan sosial.
2.
Akomodasi
Memiliki sikap-sikap sosial dalam berinteraksi sosial dengan orang lain yang bersifat heterogen (multietnis, budaya, dan agama) seperti sikap altruis, empati, kooperatif, kolaboratif, dan toleran.
3.
Tindakan
Berperilaku sosial yang bertanggungjawab dalam berinteraksi dengan orang lain.
6
Pengembangan pribadi
1.
Pengenalan
Memahami karakteristik diri sendiri.
2.
Akomodasi
Menerima keadaan diri sendiri secara positif dan realistik.
3.
Tindakan
Menampilkan perilaku yang merefleksikan pengembangan kualitas pribadinya.
7
Kematangan hubungan dengan teman sebaya
1.
Pengenalan
Memahami norma-norma (etika) pergaulan dengan teman sebaya yang beragam latar belakangnya.
2.
Akomodasi
Menyadari tentang pentingnya penerapan norma-norma dalam bergaul dengan teman sebaya.
3.
Tindakan
Bergaul dengan teman sebaya secara positif dan konstruktif.
8
Kematangan karier
1.
Pengenalan
Mengenal jenis-jenis dan karakteristik studi lanjutan (SLTA) dan pekerjaan.
2.
Akomodasi
Memiliki motivasi untuk mempersiapkan diri dengan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan studi lanjutan atau pekerjaan yang diminatinya.
3.
Tindakan
Mengidentifikasi ragam alternatif studi lanjutan atau pekerjaan yang mengandung elevansi dengan kemampuan dan minatnya.

3.  Komponen (Struktur) Program
Program bimbingan dan konseling perkembangan meliputi empat komponen program, yaitu layanan dasar, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan dukungan sistem. Masing-masing komponen itu dijelaskan sebagai berikut.
a.      Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar bimbingan merupakan layanan bantuan bagi seluruh siswa (for all) melalui kegiatan-kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensi dirinya secara optimal.
Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya. Tujuan layanan ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya membantu siswa agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial-budaya, dan agama); (2) mampu mengembangkan ketrampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku tepat (memadai) bagi penyesuaian dirinya dengan lingkungannya; (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya; dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

b.      Layanan Responsif
Layanan responsif merupakan ”layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera (immediate needs and concerns)”.
Layanan ini bertujuan untuk membantu siswa dalam memenuhi kebutuhannya yang dirasakan pada saat ini, atau para siswa yang dipandang mengalami hambatan (kegagalan) dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Indikator dari kegagalan itu berupa ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau perilaku bermasalah, atau malasuai (maladjustment).
c.       Layanan Perencanaan Individual
Layanan perencanaan individual dapat diartikan sebagai layanan bantuan kepada semua siswa agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya, berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahan dirinya.
Layanan Perencanaan Individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu siswa membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, dan sosial pribadinya. Membantu siswa memantau dan memahami pertumbuhan dan perkembangannya sendiri, kemudian merencanakan dan mengimplementasikan rencana-rencananya itu sesuai dengan pemantauan dan pemahamannya itu.
Dapat juga dikemukakan bahwa layanan ini bertujuan untuk membimbing seluruh siswa agar (a) memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap pengembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karier; (b) dapat belajar memantau dan memahami perkembangan dirinya; dan (c) dapat melakukan kegiatan atau tindakan berdasarkan pemahamannya atau tujuan yang telah dirumuskan secara proaktif.
d.      Dukungan Sistem (System Support)
Ketiga komponen program di atas, merupakan pemberian layanan BK kepada para siswa secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen program yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa, atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa.
Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan profesional hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).
Program ini memberikan dukungan kepada guru bimbingan dan konseling dalam rangka memperlancar penyelenggaraan ketiga program layanan di atas. Sedangkan bagi personel pendidikan lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah.
Keterkaitan keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 4.1 Komponen Program Bimbingan dan Konseling
4.  Perumusan Isi/Materl Program
Perumusan materi atau bahan sajian program bimbingan merujuk kepada tugas-tugas perkembangan yang ditetapkan sebagai tujuan bimbingan dan konseling. Pada hakikatnya tugas-tugas perkembangan ini, isinya merefleksikan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa.
Melalui penyajian materi ini, siswa diharapkan dapat mempelajari berbagai kecakapan hidup dan perilaku baru, baik yang menyangkut aspek pribadi, sosial, akademik, maupun karier.
Tugas-tugas Perkembangan
(Tujuan BK)
Kompetensi Siswa
Materi Bimbingan
1
Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME
1.  Mengenal berbagai kegiatan ibadah
2.  Mengamalkan ibadah dengan kemauan sendiri sesuai dengan agama yang dianutnya
Makna dan tujuan ibadah dalam kehidupan
2
Berperilaku etis
Mengenal nilai/norma dan alasan perlu mentaatinya dalam berperilaku
Fungsi norma dalam kehidupan
3
Kematangan emosi
1.  Memiliki konsep diri yang positif
2.  Memiliki pemaharnan tentang potensi diri dan terampil dalam cara mengembangkannya
3.  Memahami perkembangan dirinya sebagai remaja
4.  Mampu memelihara kebersihan, kesehatan, dan kebugaran diri
5.  Mampu menghindarkan diri dari minuman keras, narkoba/naza, dan pergaulan bebas
1.  Konsep diri
2.  Kiat-kiat mengernbangkan potensi diri
3.  Ciri-ciri remaja
4.  Kiat-kiat mernelihara kebersihan, kesehatan, dan kebugaran diri
5.  Bahayanya minuman keras, narkoba, dan pergaulan bebas

4
Kematangan intelektual
1.  Mengenal emosi dan mampu mengekspresikannya secara wajar
2.  Memiliki sikap hemat
3.  Menghargai kegiatan-kegiatan yang bernilai ekonomis
1.  Mengelola emosi
2.  Hidup hemat
5
Kesadaran Tanggung Jawab Sosial
1.  Memahami sikap-sikap sosial
2.  Berperilaku sosial yang bertanggung jawab
Pengembangan sikap-sikap sosial (altruis, empati, kooperasi, kolaborasi, dan toleransi
6
Pengembangan pribadi
1.  Mampu menjalin hubungan sosial yang sehat dan dinamis dengan teman sebaya yang bersifat heterogen (suku, budaya, dan agama).
2.  Mampu berkornunikasi dengan lancar, baik secara lisan maupun tulisan.
3.  Memiliki sikap respek (hormat) terhadap orangtua, guru-guru, dan orang dewasa lainnya.
4.  Memiliki kemampuan untuk memerankan diri secara wajar dalam kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
5.  Memiliki kemampuan untuk mernelihara kebersihan, ketertiban, dan keamanan lingkungan.
1.  Pengembangan kesadaran pentingnya persahabatan
2.  Kiat-kiat berkornunikasi yang efektif
3.  Memelihara sikap respek terhadap orangtua, guru, dan orang lain
4.  Peranan diri dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat
5.  Pentingnya memelihara lingkungan
7
Kematangan hubungan dengan teman sebaya
1.  Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
2.  Memiliki motivasi untuk belajar sepanjang hayat.
3.  Mengenal dan mampu memanfaatkan sumber-sumber belajar bagi pengembangan dirinya.
4.  Mampu memecahkan masalah (problem solving)
1.  Sikap dan kebiasaan belajar
2.  Motivasi Belajar
3.  Sumber-sumber belajar dan pernanfaatannya
4.  Pemecahan masalah
8
Kematangan karier
1.  Memiliki sikap positif terhadap studi lanjutan dan pekerjaan.
2.  Mengenal jenis-jenis studi lanjutan dan pekerjaan.
3.  Memiliki kesiapan, dengan cara mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai kebutuhannya untuk melanjutkan studi atau mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
1.  Pengembangan sikap positif terhadap studi lanjutan dan pekerjaan
2.  Jenis-jenis studi lanjutan dan pekerjaan
3.  Persiapan mernasuki studi lanjutan dan pekerjaan

5.      Strategi Peluncuran Program
Strategi peluncuran program ini terkait dengan keempat komponen program yang telah dijelaskan di atas. Strategi peluncuran bagi masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut.
a.      Strategi Layanan Dasar
1)      Bimbingan Klasikal (Classrom Guidance)
Sebagaimana telah dikemukakan pada paparan di atas, bahwa layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan ini melalui pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa.
2)      Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok-kelompok kecil. Bimbingan ini ditujukan untuk merespons kebutuhan dan minat para siswa.
3)      Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran
Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran. Konselor berkolaborasi dengan guru dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (prestasi dan pribadinya), dan mengidentifikasi aspek-aspek yang terkait dengan peranan guru mata pelajaran dalam pemberian layanan bimbingan kepada para siswa. Aspek-aspek itu di antaranya: (a) menciptakan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar siswa; (b) memahami karakteristik siswa yang unik dan beragam; (c) menandai siswa yang diduga bermasalah; (d) membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching; (e) mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru bimbingan dan konseling; (f) memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa; (g) memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (h) menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan ”figure central” bagi siswa); dan (i) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif.

4)      Kerja Sama dengan Orangtua
Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerja sama dengan para orangtua siswa. Kerja sama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerja sama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antarkonselor dan orangtua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa.
b.      Strategi Layanan Responsif
1)      Konsultasi
Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orangtua, atau pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para siswa.
2)      Konseling Individual atau Kelompok
Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, siswa (konseling) dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat.
3)      Konseling Krisis
Konseling krisis ini diberikan kepada siswa dan keluarga yang menghadapi situasi atau masalah yang krisis (darurat). Konselor memberikan intervensi agar siswa atau keluarga memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dengan segera.
4)      Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalih-tangankan klien kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.
5)      Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu, dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.
c.       Strategi Layanan Perencanaan individual
1)      Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or Small-Group Appraisal)
Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahamaii penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.
2)      Individual or Small-Group Advisement
Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan, dan karier yang diperolehnya untuk: (a) merumuskan tujuan, dan perencanaan kegiatan (alternatif kegiatan yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (b) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan; dan (c) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.
d.      Strategi Dukungan Sistem
1)      Pengembangan Profesional
Konselor secara terus-menerus berusaha untuk ”meng-update pengetahuan dan keterampilannya melalui (a) in-service training, (b) aktif dalam organisasi profesi, atau (c) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (pascasarjana).
2)      Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orangtua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referral, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata lain, strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerja sama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. jalinan kerja sama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah; (2) instansi swasta; (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia); (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orangtua siswa; (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling); dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
3)      Manajemen Program
Suatu program layanan binibingan dan konseling tidak mungkin akan tercipta, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
“Management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals”.

Berikut ini diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan bimbingan dan konseling.
a)      Kesepakatan Manajemen
Kesepakatan manajemen atas program bimbingan dan konseling sekolah diperlukan untuk menjamin implementasi program dan strategi peluncuran dalam memenuhi kebutuhan siswa dapat dilakukan secara efektif. Kesepakatan ini menyangkut pula proses meyakinkan dan niengembangkan komitmen semua pihak di lingkungan sekolah bahwa program bimbingan dan konseling sebagai bagian terpadu dari keseliruhan program sekolah.
b)      Keterlibatan Stakeholder
Komite Sekolah sebagai representasi masyarakat atau stakeholder memerlukan penyadaran dan pemahaman akan keberadaan dan pentingnya layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
c)      Manajemen dan Penggunaan Data
Program bimbingan dan konseling komprehensif diarahkan oleh data. Penggunaan data di dalam layanan bimbingan dan konseling akan menjamin setiap peserta didik memperoleh manfaat dari layanan bimbingan dan konseling. Konselor harus. menunjukkan bahwa setiap aktivitas diimplementasikan sebagai bagian dari keutuhan program bimbingan dan konseling yang didasarkan atas analisis cermat terhadap kebutuhan, prestasi, dan data terkait peserta didik. Data yang diperoleh dan digunakan perlu diadministrasikan dengan baik dan cermat. manajemen data dilakukan secara manual maupun komputer. Dalam era teknologi informasi, manajemen data peserta didik dilakukan secara komputer. Database peserta didik perlu dibangun daii dikembangkan agar perkembangan setiap peserta didik dapat dengan mudah dimonitor. Penggunaan data peserta didik dan lingkungan sekolah yang tertata dan dimenej dengan baik untuk kepentingan memonitor kemajuan peserta didik akan menjamin seluruh peserta didik menerima apa yang mereka perlukan untuk keberhasilan sekolah. Konselor harus cermat dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data. Kemajuan perkembangan peserta didik dapat dimonitor dari: prestasi belajar, data yang terkait dengan prestasi belajar, dan data tingkat penguasaan tugas-tugas perkembangan atau kompetensi.
d)     Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan (action plans) diperlukan untuk menjamin peluncuran program bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Rencana kegiatan adalah uraian detail dari program yang menggambarkan struktur isi program, baik kegiatan di sekolah maupun luar sekolah, untuk memfasilitasi peserta didik mencapai tugas perkembangan atau kompetensi.
e)      Pengaturan Waktu
Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling dalam setiap komponen program perlu dirancang dengan cermat. Perencanaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor. Sebagai contoh, misalnya 80% waktu digunakan untuk melayanai peserta didik secara langsung dan 20% digunakan untuk dukungan manajerial. Porsi waktu untuk peluncuran masing-masing komponen program dapat ditetapkan sesuai dengan pertimbangan sekolah. Misalnya:
(1) layanan dasar (30-40%),
(2) responsif (15-25%),
(3) perencanaan individual (25-35%),
(4) dukungan sistem (10-15%).
Ini contoh, dan setiap sekolah bisa mengembangkan sendiri. Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Bimbingan dan Konseling Perkembangan, perlu ditetapkan waktu secara terjadwal untuk layanan bimbingan dan konseling klasikal.
f)       Kalender Kegiatan
Program bimbingan dan konseling sekolah yang telah dituangkan ke dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, semesteran, bulanan, mingguan.
g)      Anggaran
Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari manajemen bimbingan dan konseling. Perlu dirancang dengan cermatberapa anggaran yang diperlukan untuk mendukung implementasi program. Anggaran ini harus masuk ke dalam Anggaran dan Belanja Sekolah.
h)      Penyiapan Fasilitas
Fasilitas yang diharapkan tersedia di sekolah ialah ruangan tempat bimbingan yang khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang memungkinkan tercapainya proses layanan bimbingan dan konseling yang bermutu. Ruangan itu hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para peserta didik yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa senang, dan segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan layanan dan kegiatan bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling. Terkait dengan fasilitas bimbingan dan konse1ing, di sini dapat dikemukakan tentang unsur-unsurnya, yaitu (1) tempat kegiatan, yang meliputi ruang kerja konselor, ruang layanan konseling dan bimbingan kelompok, ruang tunggu tamu, ruang tenaga administrasi, dan ruang perpustakaan; (2) instrumen dan kelengkapan administrasi, seperti: angket siswa dan orangtua, pedoman wawancara, pedoman observasi, format konseling, format satuan layanan, dan format surat referal; (3) buku-buku panduan, buku informasi tentang studi lanjutan atau kursus-kursus, modul bimbingan, atau buku materi layanan bimbingan; (4) perangkat elektronik (seperti komputer, dan tape recorder); dan (5) filling cabinet (tempat penyimpanan dokumentasi dan data siswa).
Di dalam ruangan itu hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen bimbingan dan konseling, himpunan data peserta didik, dan berbagai data serta informasi lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti penampilan informasi pendidikan dan jabatan, informasi tentang kegiatan ekstrakurikuler, dan sebagainya. Yang tidak kalah penting ialah, ruangan itu hendaklah nyaman yang menyebabkan para pelaksana bimbingan dan konseling betah bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan pelayanan yang terselenggara. Saran yang diperlukan untuk penunjang layanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut.
(1)   Alat pengumpul data, baik tes maupun nontes
Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat sekolah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar. Alat pengumpul data yang berupa nontes yaitu pedoman observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis, pedoman wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan sosiometri.
(2)   Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data
Alat penyimpan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi dan map. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi ataupun data untuk masing-masing peserta didik, perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data peserta didik yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data secara keseluruhan, yaitu buku pribadi.
(3)   Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat bantu bimbingan
Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat.
i)        Pengendalian
Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen program layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program, koordinator sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling hendaknya memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik yang dapat memungkinkan terciptanya suatu komunikasi yang baik dengan seluruh staf yang ada. Personel-personel yang terlibat di dalam program, hendaknya benar-benar meiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya maupun tanggung jawab terhadap yang lain, serta memiliki moral yang stabil.
Pengendalian program bimbingan ialah: (a) untuk menciptakan suatu koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada; (b) untuk mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya; dan (c) memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan.
j)        Organisasi dan Personel
Layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan di bawah tanggung jawab kepala sekolah dan seluruh staf. Koordinator bimbingan dan konseling bertanggung jawab dalam menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara operasional. Personel lain yang mencakup wakil kepala sekolah, guru bimbingan dan konseling (konselor), guru bidang studi, dan wali kelas memiliki peran dan tugas masing-masing dalam Penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling. Secara rinci deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing personel, serta organisasi bimbingan dan konseling di sekolah dapat dilihat pada lampiran I.
6.      Jadwal Kegiatan
Program bimbingan dapat dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak langsung, dan (b) tanpa kontak langsung dengan siswa. Untuk kegiatan kontak langsung yang dilakukan secara klasikal di kelas (layanan dasar) perlu dialokasikan waktu terjadwal 1-2 jam pelajaran per kelas per minggu. Sementara kegiatan langsung yang dilakukan secara individual dan kelompok dapat dilakukan di ruang bimbingan, dengan menggunakan jadwal di luar jam pelajaran. Adapun kegiatan bimbingan tanpa kontak langsung dengan siswa dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti buku-buku, brosur, atau majalah dinding), kunjungan rumah (home visit), konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referral)
7.      Evaluasi Program
a.      Pengertian Evaluasi
Penilaian merupakan langkah penting dalam manajemen program bimbingan. Tanpa penilaian tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi keberhasilan pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan. Penilaian program bimbingan merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, bahwa keberhasilan program dalam pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat lewat kegiatan penilaian.
Sehubungan dengan penilaian ini, Shertzer dan Stone (1966) mengemukakan pendapatnya:
“Evaluation consist of making systematic judgments of the relative effectiveness with which goals are attained in relation to special standards”

Evaluasi ini dapat pula diartikan sebagai proses pengumpulan informasi (data) untuk mengetahui efektivitas (keterlaksanaan dan ketercapaian) kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Pengertian lain dari evaluasi ini adalah suatu usaha mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan sikap dan perilaku, atau tugas-tugas perkembangan para siswa melalui program kegiatan yang telah dilaksanakan.
Penilaian kegiatan bimbingan di sekolah adalah segala upaya tindakan atau proses untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan di sekolah dengan mengacu pada kriteria atau patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan.
Kriteria atau patokan yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan, kebutuhan peserta didik dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung berperan membantu peserta didik memperoleh perubahan perilaku dan pribadi ke arah yang lebih baik.
Dalam keseluruhan kegiatan layanan bimbingan dan konseling, penilaian diperlukan untuk memperoleh umpan balik terhadap keefektifan layanan bimbingan yang telah dilaksanakan. Dengan informasi ini dapat diketahui sampai sejauli mana derajat keberhasilan kegiatan layanan bimbingan. Berdasarkan informasi ini dapat ditetapkan langkah-langkah tindak lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya.
b.      Tujuan Evaluasi
Kegiatan evaluasi bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian tujuan dari program yang telah ditetapkan.
c.       Fungsi Evaluasi
1)      Memberikan umpan balik (feedback) kepada guru bimbingan dan konseling (konselor) untuk memperbaiki atau mengembangkan program bimbingan dan konseling
2)      Memberikan informasi kepada pihak pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, dan orangtua siswa tentang perkembangan sikap dan perilaku, atau tingkat ketercapaian tugas-tugas perkembangan siswa, agar secara bersinergi atau berkolaborasi meningkatkan kualitas implementasi program BK di sekolah.
d.      Aspek-aspek yang Dievaluasi
Ada dua macam aspek kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana keefektifan layanan bimbingan dilihat dari prosesnya, sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan layanan bimbingan dilihat dari hasilnya.
Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil antara lain:
1)      kesesuaian antara program dengan pelaksanaan;
2)      keterlaksanaan program;
3)      hambatan-hambatan yang dijumpai;
4)      dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar;
5)      respons peserta. didik, personel sekolah, orangtua, dan masyarakat terhadap layanan bimbingan;
6)      perubahan kemajuan pesertta didik dilihat pencapaian tujuan layanan bimbingan, pencapaian tugas-tugas perkembangan, dan hasil belajar; dan
7)      keberhasilan peserta didik setelah menamatkan sekolah baik pada studi lanjutan ataupun pada kehidupannya di masyarakat.
Apabila dilihat dari sifat evaluasi, evaluasi bimbingan dan konseling lebih bersifat ”penilaian dalam proses” yang dapat dilakukan dengan cara berikut ini.
1)      Mengamati partisipasi dan aktivitas peserta didik dalam kegiatan layanan bimbingan.
2)      Mengungkapkan pemahaman peserta didik siswa atas bahan-bahan yang disajikan atau pemahaman/pendalaman peserta didik atas masalah yang dialaminya.
3)      Mengungkapkan kegunaan layanan bagi peserta didik dan perolehan peserta didik sebagai hasil dari partisipasi/aktivitasnya dalam kegiatan layanan bimbingan
4)      Mengungkapkan minat peserta didik tentang perlunya layanan bimbingan lebih lanjut.
5)      Mengamati perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu (butir ini terutama dilakukan dalam kegiatan layanan bimbingan yang berkesinambungan).
6)      Mengungkapkan kelancaran proses dan suasana penyelenggara kegiatan layanan.
Berbeda dengan hasil evaluasi pengajaran yang pada umumnya berbentuk angka atau skor, maka hasil evaluasi bimbingan dan konseling berupa deskripsi tentang aspek-aspek yang dievaluasi (seperti partisipasi/aktivitas dan pemahaman peserta didik; kegunaan layanan menurut peserta didik; perolehan peserta didik dari layanan; dan minat peserta didik terhadap layanan lebih lanjut; perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu; perolehan guru bimbingan dan konseling; komitmen pihah-pihak terkait; serta kelancaran dan suasana penyelenggaraan kegiatan). Deskripsi tersebut mencerminkan sejauh mana proses penyelenggaraan layanan/pendukung memberikan sesuatu yang berharga bagi kemajuan dan perkembangan dan/atau memberikan bahan atau kemudahan untuk kegiatan layanan terhadap peserta didik.
e.       Langkah-langkah Evaluasi
Dalam melaksanakan evaluasi program ditempuh langkah-langkah berikut:
1)      Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan. Karena tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengambil keputusan, maka konselor perlu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan hal-hal yang akan dievaluasi. Pertanyaan-pertanyaan itu pada dasarnya terkait dengan dua aspek pokok yang dievaluasi yaitu: (a) tingkat keterlaksanaan program (aspek proses), dan (b) tingkat ketercapaian tujuan program (aspek hasil).
2)      Mengembangkan atau menyusun instrumen pengumpul data. Untuk memperoleh data yang diperlukan, yaitu mengenai tingkat keterlaksanaan dan ketercapaian program, maka konselor perlu menyusun instrumen yang relevan dengan kedua aspek tersebut. Instrumen itu di antaranya inventori, angket, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan studi dokumentasi.
3)      Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah data diperoleh maka data itu dianalisis, yaitu menelaah tentang program apa saja yang telah dan belum dilaksanakan, serta tujuan mana saja yang telah dan belum tercapai.
4)      Melakukan tindak lanjut (Follow Up). Berdasarkan temuan yang diperoleh, maka dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan ini dapat meliputi dua kegiatan, yaitu (a) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat, atau kurang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai; dan (b) mengembangkan program, dengan cara mengubah atau menambah beberapa hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas atau efektivitas program.
Penilaian di tingkat sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah yang dibantu oleh pembimbing khusus dan personel sekolah lainnya. Di samping itu, penilaian kegiatan bimbingan dilakukan juga oleh pejabat yang berwenang (pengawas bimbingan dan konseling) dari instansi yang lebih tinggi (Departemen Pendidikan Nasional Kota atau Kabupaten).
Sumber informasi untuk keperluan penilaian ini antara lain peserta didik, kepala sekolah, para wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, tokoh masyarakat, para pejabat Depdikbud, organisasi profesi bimbingan, sekolah lanjutan, dan sebagainya. Penilaian dilakukan dengan menggunakan berbagai cara dan alat seperti wawancara, observasi, studi dokumentasi, angket, tes, analisis hasil kerja peserta didik, dan sebagainya.
Penilaian perlu diprogramkan secara sistematis dan terpadu. Kegiatan penilaian baik mengenai proses maupun hasil perlu dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar dalam tindak lanjut untuk perbaikan dan pengembangan program layanan bimbingan. Dengan dilakukan penilaian secara komprehensif, jelas dan cermat maka diperoleh data atau informasi tentang proses dan hasil seluruh kegiatan bimbingan dan konseling. Data dan informasi ini dapat dijadikan bahan untuk pertanggungjawaban/akuntabilitas pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah.
E.     Soal-soal Latihan
1.  Needs Assessment (NA) merupakan kegiatan yang sangat penting dalam menyusun program. Sehubungan dengan hal tersebut, coba Anda jelaskan tentang pengertian needs assessment, dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan kegiatan tersebut!
2.  Selama anda bekerja sebagai guru bimbingan dan konseling apakah anda melakukan needs assessment? Apabila ya, bagaimana prosedurnya, dan apabila tidak, apa alasannya?
3.  Dalam menyusun program, anda dituntut untuk merumuskan tujuan. Bagaimana anda mengembangkan rumusan tujuan itu?
4.  Program bimbingan terdiri atas beberapa komponen. Jelaskan komponen-komponen tersebut, dan kaitkan dengan strategi peluncuran dari setiap komponen tersebut!
5.  Bagaimana anda merumuskan materi bimbingan, dan mencakup apa saja materi bimbingan tersebut?
6.  Dalam mengimplementasikan program, apakah perlu alokasi waktu secara terjadwal masuk kelas? jika ya atau tidak, kemukakan alasannya!
7.  Jelaskan bagaimana prosedur evaluasi program itu!
F.     Tugas-tugas Workshop
Untuk memantapkan pemahaman dan keterampilan para guru, maka dalam workshop pengembangan program dan manajemen BK kepada para guru diberikan beberapa tugas. Untuk melaksanakan tugas ini, para guru dibagi menjadi beberapa kelompok kecil (8-10 orang).
Tugas-tugas itu adalah sebagai berikut.
1.      Tugas I. Masing-masing kelompok merumuskan tugas-tugas perkembangan (kompetensi) siswa SMP yang dipandang sesuai dengan nilai-nilai agama, budaya, dan kematangan psikofisik siswa.
2.      Tugas II. Masing-masing kelompok mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diketahui melalui needs assessment (NA), dan menyusun instrumen yang relevan untuk melakukan kegiatan NA.
3.      Tugas III. Masing-masing kelompok menyusun rancangan program BK secara matrik, yang isinya meliputi: domain/aspek perkembangan, tujuan, materi, strategi, waktu pelaksanaan, dan keterangan.
4.      Tugas IV. Masing-masing kelompok mengidentifikasi aspek-aspek ymg dievaluasi dan menyusun instrumen untuk mengevaluasi program tersebut.

G.    Daftar Rujukan
Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association).
Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang.
Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center.
Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison: Brown & Benchmark.
Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Siswa dalam Upaya Meningkatkan Mutu Layanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta: Kementerian Riset dan Teknologi RI, LIPI.
Syamsu Yusuf LN. (1998). Model Bimbingan dan Konseling dengan Pendekatan Ekologis. Disertasi. Bandung: PPs UPI.
Stoner, James A. (1987). Management. London: Prentice-Hall International Inc.


Lampiran I
DESKRIPSI DAN TANGGUNG JAWAB
PERSONEL SEKOLAH DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
A.    Kepala Sekolah
Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan di sekolah, tugas kepala sekolah ialah:
1.      mengoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan, yang meliputi kegiatan pengajaran, pelatihan, serta bimbingan dan konseling di sekolah;
2.      menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah;
3.      memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan dan konseling di sekolah;
4.      melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah;
5.      menetapkan koordinator guru bimbingan dan konseling yang bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah berdasarkan kesepakatan bersama guru bimbingan dan konseling;
6.      membuat surat tugas guru bimbingan dan konseling dalam proses bimbingan dan konseling pada setiap awal catur wulan;
7.      menyiapkan surat pernyataan melakukan kegiatan bimbingan dan konseling sebagai bahan usulan angka kredit bagi guru pembimbing. Surat pernyataan ini dilampiri bukti fisik pelaksanaan tugas;
8.      mengadakan kerja sama dengan instansi lain yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling.
B.     Wakil Kepala Sekolah
Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam hal:
1.      mengoordinasikan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling kepada semua personel sekolah;
2.      melaksanakan kebijakan pimpinan sekolah terutama dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.

C.    Koordinator Bimbingan dan Konseling
Tugas-tugas koordinator bimbingan dan konseling dapat dirinci seperti:
1.      mengoordinasikan para guru bimbingan dan konseling dalam:
  1. memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling;
  2. menyusun program bimbingan dan konseling;
  3. melaksanakan program bimbingan dan konseling;
  4. mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling
  5. menilai program bimbingan dan konseling;
  6. mengadakan tindak lanjut
2.      membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya tenaga, sarana, dan prasarana;
3.      mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling kepada kepala sekolah.
D.    Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor)
Adapun tugas guru bimbingan dan konseling ialah:
1.      memasyarakatkan kegiatan bimbingan dan konseling;
2.      merencanakan program bimbingan dan konseling;
3.      merumuskan persiapan kegiatan bimbingan dan konseling
4.      melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya
5.      menilai proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan dan konseling;
6.      menganalisis hasil penilaian;
7.      melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis penilaian
8.      mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling;
9.      mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator guru bimbingan dan konseling.
E.     Guru Mata Pelaiaran
Guru adalah personel yang sangat penting dalam aktivitas bimbingan dan konseling. Tugas-tugasnya adalah:
1.      membantu memasyarakatkan bimbingan dan konseling kepada peserta didik;
2.      melakukan kerjasama dengan guru bimbingan dan konseling dalam mengidentifikasi peserta didik yang memerlukan bimbingan dan konseling;
3.      mengalihtangankan peserta didik yang memerlukan bimbingan dan konseling kepada guru bimbingan dan konseling;
4.      mengadakan upaya tindak lanjut layanan bimbingan dan konseling (program perbaikan dan program pengayaan);
5.      memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling dari guru bimbingan dan konseling;
6.      membantu mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian layanan bimbingan dan konseling; serta
7.      ikut serta dalam program layanan bimbingan dan konseling.
F.     Wali Kelas
Wali kelas sebagai mitra kerja konselor, juga memiliki tugas-tugas bimbingan dan konseling, yaitu:
1.      membantu guru bimbingan dan konseling melaksanakan layanan bimbingan dan konseling yang menjadi tanggung jawabnya;
2.      membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik, khususnya di kelas yang menjadi tanggungjawabnya, untuk mengikuti layanan bimbingan dan konseling;
3.      memberikan informasi tentang peserta didik di kelasnya untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling dari guru bimbingan dan konseling;
4.      menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang peserta didik yang perlu diperhatikan khusus; serta
5.      ikut serta dalam konferensi kasus.
G.    Staf Administrasi
Seperti personel bimbingan lain, staf administrasi pun adalah personel yang memiliki tugas bimbingan khusus, yaitu:
1.      membantu guru bimbingan dan konseling (konselor) dan koordinator dalam mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah;
2.      membantu mempersiapkan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling;
3.      membantu menyiapkan sarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan dan konseling.
STRUKTUR ORGANISASI BIMBINGAN DAN KONSELING
DI SEKOLAH MENENGAH ATAS



Lampiran II
RANCANGAN STRUKTUR PROGRAM
BIMBINGAN DAN KONSELING
1.      Rasional/Landasan
Rumuskan dasar pemikiran tentang urgensi bimbingan dan konseling dalam keseluruhan program sekolah. Ke dalam rumusan ini dapat menyangkut konsep dasar yang digunakan, kaitan bimbingan dan konseling dengan pembelajaran/ implementasi kurikulum, dampak perkembangan iptek dan sosial budaya terhadap gaya hidup masyarakat (termasuk para siswa), dan hal-hal lain yang dianggap relevan.
2.      Visi dan Misi
Runuskan sepanjang memungkinkan, dan dirumuskan sejalan dengan visi, misi sekolah. Mungkin juga terkandung secara implisit/eksplisit dalam rasional.
3.      Deskripsi Kebutuhan Siswa
Rumuskan hasil needs assessment (penilaian kebutuhan) siswa dan lingkungannya ke dalam rumusan perilaku-perilaku yang diharapkan dikuasai siswa. Rumusan ini tiada lain adalah rumusan tugas-tugas perkembangan/kompetensi. Bidang-bidang perkembangan/kompetensi bisa merujuk kepada yang disepakati bersama.
4.      Tujuan
Rumuskan tujuan yang akan dicapai dalam bentuk perilaku yang harus dikuasai siswa setelah memperoleh layanan bimbingan dan konseling. Sangat baik apabila tujuan dapat dirumuskan ke dalam tataran/level tujuan:
a.       Penyadaran
b.      Akomodasi
c.       Tindakan
5.      Komponen Program
a.       Komponen Layanan Dasar
b.      Komponen Responsif
c.       Komponen Perencanaan Individual
d.      Komponen dukungan sistem (manajemen)
6.      Rencana Operasional (Action Plan)
Atas dasar komponen program di atas lakukan:
a.       Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan. Kegiatan ini diturunkan dari perilaku/tugas perkembangan/kompetensi yang harus dikuasai siswa.
b.      Pertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan di atas. Apakah kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau terus-menerus.
c.       Tuangkan kegiatan dimaksud ke dalam rancangan jadwal kegiatan untuk selama satu tahun. Rancangan ini bisa dalam bentuk matrik.
d.      Hal-hal lain yang dianggap perlu dicantumkan silakan disepakati, sepanjang tidak mengganggu makna dari rencana operasional ini.
7.      Pengembangan Tema/Topik (bisa dalam bentuk dokumen tersendiri)
Tema ini merupakan rincian lanjut dari kegiatan yang sudah diidentifikasikan yang terkait dengan tugas-tugas perkembangan
8.      Pengembangan Satuan Layanan (bisa dalam bentuk dokumen tersendiri)
Dikembangkan secara bertahap sesuai dengan tema/topik.
9.      Evaluasi
Rumuskan rencana evaluasi perkembangan siswa atas dasar tujuan yang ingin dicapai. Sejauh mungkin perlu dirumuskan pula evaluasi program yang berfokus kepada keterlaksanaan program, sebagai bentuk akuntabilitas layanan bimbingan dan konseling.
10.  Anggaran
Nyatakan rencana anggaran untuk mendukung implementasi program secara cermat dan rasional/realistik.
11.  (Hal lain yang dianggap perlu, silakan didiskusikan)
You are free to and responsible for the development of school guidance and counseling program. Do not hesitate to decide and implement the program that you think the best for your client.


Lampiran III
CONTOH PERENCANAAN
SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Perkembangan Pribadi-Sosial
Aspek              : Manajemen Diri dan Perilaku Tanggungjawab
Kompetensi     : Pentingnya pertumbuhan dan perubahan perilaku
Topik/Tema     : Pertanyaan Mutu Perilaku
Tingkat kelas   : 6-8                                                     Waktu                         2 sesi kelas
 


Bahan
Lembar kerja ”Pertanyaan Mutu Perilaku”.
 


Evaluasi
Peserta didik akan mengidentifikasi mutu perilaku dirinya dan mengaitkannya dengan kepentingan kerja
 


Prosedur
1.      Konselor mengarahkan diskusi kelas tentang mutu perilaku dan meminta contoh dari kelas. Contoh ini ditulis dan didaftar dalam chart.
2.      Hand out ”Pertanyaan Mutu Perilaku” dalam bentuk lembar kerja.
3.      Jika peserta didik sudah selesai mengisi lembar kerja, diskusikan jawaban mereka dan perintahkan mereka untuk mengidentifikasi dua cara perbaikan perilaku yang dijawab ”tidak”.
4.      Pilih tiga perilaku bermutu dari dirinya dan kaitkan kepentingan perilaku tersebut dengan pekerjaan atau tugas-tugas akademik. Tulis di bagian belakang lembar kerja.



PERTANYAAN MUTU PERILAKU

X
 
 


Jawab Ya atau Tidak atas pertanyaan berikut:

                                                                                                              Ya     Tidak
1.      Apakah kamu selalu jujur?                                                           _____  _____
2.      Apakah kamu mampu mengendalikan diri?                                 _____  _____
3.      Dapatkah kamu berkonsentrasi kerja?                                         _____  _____
4.      Apakah kamu bekerja dengan mutu tinggi?                                _____  _____
5.      Apakah kamu mendengarkan orang lain?                                    _____  _____
6.      Apakah kamu selalu berbuat yang terbaik?                                 _____  _____
7.      Dapatkah kamu bekerja dengan orang lain dalam kelompok?     _____  _____
8.      Apakah kamu seorang pemimpin?                                               _____  _____
9.      Apakah kamu berbuat supaya orang lain berkesan baik?             _____  _____
10.  Apakah kamu selalu mengerjakan tugas tepat waktu?                _____  _____
11.  Apakah kamu bersahabat?                                                           _____  _____
12.  Apakah kamu merasa bahagia dalam banyak hal?                       _____  _____
13.  Apakah kamu senantiasa berperasaan baik tentang dirimu?        _____  _____
14.  Apakah kamu senantiasa tepat waktu?                                        _____  _____
15.  Apakah kamu suka belajar?                                                         _____  _____


TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING
Oleh Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd.
A.    Pengantar
Pemaparan materi ini dimaksudkan untuk mengembangkan kesadaran dan orientasi tentang kemampuan melaksanakan dan mengelola program bimbingan dan konseling. Pengembangan kesadaran dan orientasi ini merupakan bagian dari tanggung jawab profesional seorang konselor. Lingkup kajian materi ini terdiri atas teknik layanan dasar bimbingan, teknik layanan responsif, teknik layanan perencanaan individual, teknik dukungan sistem, dan teknik penggunaan teknologi dalam bimbingan dan konseling.
B.     Kompetensi
Materi ini dirancang untuk mendukung pengembangan kompetensi berikut ini.
K.6. Kemampuan melaksanakan layanan bantuan.
C.    Indikator
Subkompetensi dan indikator yang diharapkan dicapai para konselor dari kajian materi ini adalah sebagai berikut.
Subkompetensi K.6.1. Memfasilitasi peningkatan perkembangan dan prestasi peserta didik.
Indikator                      K.6.1.d.          Melakukan konseling terhadap peserta didik yang berkenaan dengan pilihan karier, pendidikan dan keberhasilan yang diharapkan.
                                     K.6.1.e.  Berkolaborasi dengan guru, pimpinan sekolah, orangtua dan tenaga kependikan lain dalam menjamin keberhasilan pendidikan di sekolah.
                                     K.6.1.f. Melakukan bimbingan kelompok untuk mengembangkan kemampuan pribadi dan sosial.
Subkompetensi K.6.4. Melakukan Konseling
Indikator                      K.6.4.e. Melakukan konseling dan konsultasi memfasilitasi perkembangan peserta didik dalam perbedaan budaya dan kebutuhan khusus.
Subkompetensi K.6.5.  Melakukan advokasi untuk mengupayakan kepentingan peserta didik.
Indikator                      K.6.5.b.          Mampu memberikan bantuan pelatihan orientasi dan bantuan konsultasi bagi pimpinan sekolah dan guru dalam mengembangkan layanan bagi peserta didik.
Subkompetensi K.6.6.  Menggunakan teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling.
Indikator                      K.6.6.c. Menggunakan media komunikasi sebagai alat bimbingan dan konseling
                                     K.6.6.e. Menggunakan pesawat telepon untuk layanan bimbingan dan konseling.
D.    Strategi
Strategi pokok yang digunakan di dalam mengkaji materi teknik-teknik bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :
1.      Penyajian informasi umum tentang teknik-teknik bimbingan dan konseling
2.      Dialog
3.      Analisis kasus
4.      Refleksi diri
E.     Deskripsi Materi
Teknik-teknik layanan bimbingan dan konseling itu adalah sebagai berikut:
1.      Bimbingan Kelompok
Strategi lain dalam meluncurkan layanan dasar bimbingan adalah bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada diri konseli (peserta). Isi kegiatan bimbingan kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam bentuk pelajaran.
Penataan bimbingan kelompok pada umumnya berbentuk kelas beranggotakan 15 sampai 20 orang. Informasi yang diberikan dalam bimbingan kelompok itu terutama dimaksudkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman mengenai orang lain, sedangkan perubahan sikap merupakan tujuan yang tidak langsung. Kegiatan bimbingan kelompok biasanya dipimpin oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) atau guru.
Kegiatan ini banyak menggunakan alat-alat pelajaran seperti cerita-cerita yang tidak tamat, boneka, dan film. Kadang-kadang dalam pelaksanaannya konselor mendatangkan ahli tertentu untuk memberikan ceramah yang bersifat informatif. Kegiatan bimbingan kelompok pada umumnya menggunakan prinsip dan proses dinamika kelompok, seperti dalam kegiatan sosiodrama, diskusi panel, dan teknik lainnya yang berkaitan dengan kegiatan kelompok.
Penyelenggaraan bimbingan kelompok memerlukan persiapan dan praktik pelaksanaan kegiatan yang memadai, dari langkah awal sampai dengan evaluasi dan tindak lanjutnya.
a.      Langkah Awal
Langkah atau tahap awal diselenggarakan dalam rangka pembentukan kelompok sampai dengan mengumpulkan para peserta yang siap melaksanakan kegiatan kelompok. Langkah awal ini dimulai dengan penjelasan tentang adanya layanan bimbingan kelompok bagi para peserta didik, pengertian, tujuan, dan kegunaan bimbingan kelompok. Setelah penjelasan ini, langkah selanjutnya menghasilkan kelompok yang langsung merencanakan waktu dan tempat menyelenggarakan kegiatan bimbingan kelompok.
b.      Perencanaan Kegiatan
Perencanaan kegiatan bimbingan kelompok meliputi penetapan : a) materi layanan; b) tujuan yang ingin dicapai; c) sasaran kegiatan; d) bahan atau sumber bahan untuk bimbingan kelompok; e) rencana penilaian; f) waktu dan tempat.
c.       Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan yang telah direncanakan itu selanjutnya dilaksanakan melalui kegiatan sebagai berikut.
1)      Persiapan menyeluruh yang meliputi persiapan fisik (tempat dan kelengkapannya); persiapan bahan, persiapan keterampilan dan persiapan administrasi. Mengenai persiapan keterampilan untuk penyelenggaraan bimbingan kelompok, guru bimbingan dan konseling diharapkan mampu melaksanakan teknik-teknik berikut ini. (a) Teknik umum yaitu ”Tiga M”: mendengar dengan baik, memahami secara penuh, merespons secara tepat dan positif; dorongan minimal; penguatan; dan keruntutan. (b) Keterampilan memberikan tanggapan: mengenal perasaan peserta; mengungkapkan perasaan sendiri; dan merefleksikan. (c) Keterampi memberikan pengarahan: memberikan informasi; memberikan nasihat; bertanya secara langsung dan terbuka; memengaruhi dan mengajak; menggunakan contoh pribadi; memberikan penafsiran; mengonfrontasikan; mengupas masalah; dan menyimpulkan. Satu hal lagi yang perlu dipersiapkan oleh guru bimbingan dan konseling ialah keterampilan memantapkan asas kerahasiaan kepada seluruh peserta.
2)      Pelaksanaan tahap-tahap kegiatan. Tahap 1 yaitu pembentukan. Temanya pengenalan, pelibatan dan pemasukan diri. Kegiatannya: (a) mengungkapkan pengertian dan tujuan bimbingan kelompok; (b) menjelaskan cara-cara dan asas-asas bimbingan kelompok; (c) saling memperkenalkan dan mengungkapkan diri; (d) teknik khusus; (e) permainan penghangatan/pengakraban. Tahap 2 yaitu peralihan. Kegiatannya: (a) menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya; (b) menawarkan atau mengamati apakah para anggola sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjuinya; (c) membahas suasana yang terjadi; (d) meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota; (e) kalau perlu kembali ke beberapa aspek tahap pertama/tahap pembentukan. Tahap 3 yaitu kegiatan. Kegiatannya: (a) pemimpin kelompok mengemukakan suatu masalah atau topik; (b) tanya jawab antara anggota dan pemimpin kelompok tentang hal-hal yang belum jelas yang menyangkut masalah atau topik yang dikemukakan pemimpin kelompok; (c) anggota membahas masalah atau topik tersebut secara mendalam dan tuntas; (d) kegiatan selingan.
d.      Evaluasi Kegiatan
Penilaian kegiatan bimbingan kelompok difokuskan pada perkembangan pribadi peserta didik dan hal-hal yang dirasakan mereka berguna. Isi kesan-kesan yang diungkapkan oleh para peserta merupakan isi penilaian yang sebenarnya. Penilaian terhadap bimbingan kelompok dapat dilakukan secara tertulis, baik melalui essai, daftar cek, maupun daftar isian sederhana. Secara tertulis para peserta diminta mengungkapkan perasaannya, pendapatnya, harapannya, minat dan sikapnya terhadap berbagai hal, baik yang telah dilakukan selama kegiatan bimbingan kelompok (isi maupun proses), maupun kemungkinan keterlibatan mereka untuk kegiatan serupa selanjutnya. Kepada para peserta juga dapat diminta untuk mengemukakan (baik lisan mau tertulis) tentang hal-hal yang paling berharga dan/atau kurang mereka senangi selama kegiatan bimbingan kelompok.
Penilaian terhadap bimbingan kelompok berorientasi pada perkembangan, yaitu mengenali kemajuan atau perkembangan positif yang terjadi pada diri peserta. Lebih jauh, penilaian terhadap bimbingan kelompok lebih bersifat penilaian ”dalam proses” yang dapat dilakukan melalui: (1) mengamati partisipasi dan aktivitas peserta selama kegiatan berlangsung; (2) mengungkapkan pemahaman peserta atas materi yang dibahas; (3) mengungkapkan kegunaan bimbingan kelompok bagi mereka, dan perolehan mereka sebagai hasil dari keikutsertaan mereka; (4) mengungkapkan minat dan sikap mereka tentang kemungkinan kegiatan lanjutan; (5) mengungkapkan kelancaran proses dan suasana penyelenggaraan bimbingan kelompok.
e.       Analisis dan Tindak Lanjut
Hasil penilaian kegiatan bimbingan kelompok perlu dianalisis untuk mengetahui lebih lanjut seluk beluk kemajuan para peserta dan seluk beluk penyelenggaraan bimbingan kelompok. Perlu dikaji apakah hasil-hasil pembahasan dan/atau pemecahan masalah sudah dilakukan sedalam atau setuntas mungkin, atau sebenarnya masih ada aspek-aspek penting yang belum dijangkau dalam pembahasan itu.
Dalam analisis tersebut, satu hal yang menarik ialah analisis tentang kemungkinan dilanjutkannya pembahasan topik atau masalah yang telah dibahas sebelumnya. Usaha tindak lanjut mengikuti arah dan hasil analisis tersebut di atas. Tindak lanjut itu dapat dilaksanakan melalui bimbingan kelompok selanjutnya atau kegiatan dianggap sudah memadai dan selesai sehingga upaya tindak lanjut secara tersendiri dianggap tidak diperlukan.
2.      Konseling Individual
Konseling individual adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang konseli (peserta didik). Konseli mengalami kesukaran pribadi yang tidak dapat ia pecahkan sendiri, kemudian ia meminta bantuan konselor sebagai petugas yang profesional dalam jabatannya dengan pengetahuan dan keterampilan psikologi. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, yang menghadapi kesukaran dalam masalah pendidikan, pekerjaan, dan sosial di mana ia tidak dapat memilih dan memutuskan sendiri. Oleh karena itu, konseling hanya ditujukan kepada individu-individu yang sudah menyadari kehidupan pribadinya.
Dalam konseling terdapat hubungan yang dinamis dan khusus karena dalam interaksi tersebut konseli merasa diterima dan dimengerti oleh konselor. Dalam hubungan ini konselor dapat menerima konseli secara pribadi dan tidak memberikan penilaian. Konseli merasa ada orang lain yang dapat mengerti masalah pribadinya dan mau membantu memecahkannya. Konselor dan konseli saling belajar dalam pengalaman hubungan yang bersifat khusus dan pribadi ini.
Konseling adalah proses belajar yang bertujuan agar konseli (peserta didik) dapat mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri serta realistis dalam proses penyesuaian dengan lingkungannya. Suatu hubungan pribadi yang unik dalam konseling dapat membantu individu (peserta didik) membuat keputusan, pemilihan dan rencana yang bijaksana, serta dapat berkembang dan berperanan lebih baik di lingkungannya. Konseling membantu konseli untuk mengerti diri sendiri, mengeksplorasi diri sendiri, dan dapat memimpin diri sendiri dalam suatu masyarakat.
Dalam konseling diharapkan konseli dapat mengubah sikap, keputusan diri sendiri sehingga ia dapat lebih baik menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memberikan kesejahteraan pada diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Pemilihan dan penyesuaian yang tepat dapat memberikan perkembangan yang optimal kepada individu dan dengan perkembangan ini individu dapat lebih baik menyumbangkan dirinya atau ambil bagian yang lebih baik dalam lingkungannya. Konseling bertujuan membantu individu untuk memecahkan masalah-masalah pribadi, baik sosial. maupun emosional, yang dialami saat sekarang dan yang akan datang.
Konseling bertujuan membantu individu untuk mengadakan interpretasi fakta-fakta, mendalami arti nilai hidup pribadi, kini dan mendatang. Konseling memberikan bantuan kepada individu untuk mengembangkan kesehatan mental, perubahan sikap, dan tingkah laku. Konseling menjadi strategi utama dalam proses bimbingan dan merupakan teknik standar serta merupakan tugas pokok seorang konselor di Pusat Pendidikan.
Banyak teknik yang digunakan dalam konseling individual, yaitu: (1) attending/menghampiri klien; (2) empati; (3) refleksi; (4) eksplorasi; (5) menangkap pesan utama; (6) bertanya untuk membuka percakapan; (7) bertanya tertutup; (8) dorongan minimal; (9) interpretasi; (10) mengarahkan; (11) menyimpulkan sementara; (12) memimpin; (13) memfokus; (14) konfrontasi; (15) menjernihkan; (16) memudahkan; (17) diam; (18) mengambil inisiatif; (19) memberi nasihat; (20) memberi informasi; (21) merencanakan; dan (22) menyimpulkan.
Secara umum proses konseling individual dibagi atas tiga tahapan yaitu sebagai berikut.
a.      Tahap Awal Konseling
Tahap awal ini terjadi sejak klien bertemu konselor hingga berjalan proses konseling dan menemukan definisi masalah klien. Tahap awal ini Cavanagh (1982) menyebutkan dengan istilah introduction, invitation and environmental support. Adapun yang dilakukan oleh konselor dalam proses konseling tahap awal itu adalah sebagai berikut.
1)      Membangun hubungan konseling dengan melibatkan klien yang mengalami masalah. Pada tahap ini konselor berusaha untuk membangun hubungan dengan cara melibatkan klien dan berdiskusi dengan klien. Hubungan tersebut dinamakan working relationship, yaitu hubungan yang berfungsi, bermakna, dan berguna. Keberhasilan konseling di antaranya sangat ditentukan oleh tahap awal ini. Kunci keberhasilan tahap ini di antaranya ditentukan oleh keterbukaan konselor dan keterbukaan klien. Keterbukaan klien untuk mengungkapkan isi hati, perasaan, dan harapan sehubungan dengan masalah ini akan sangat bergantung pada kepercayaan klien terhadap konselor. Konselor hendaknya mampu menunjukkan kemampuannya untuk dapat dipercaya oleh klien, tidak pura-pura, asli, mengerti, dan menghargai klien. Pada tahap ini konselor hendaknya mampu melibatkan klien untuk terus-menerus dalam proses konseling.
2)      Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling telah terjalin dengan baik dan klien sudah melibatkan diri, berarti kerja sama antara konselor dengan klien bisa dilanjutkan dengan mengangkat isu, kepedulian, dan masalah yang dialami klien. Sering klien tidak begitu mudah menjelaskan masalahnya walaupun mungkin dia hanya mengetahui gejala-gejala masalah yang dialaminya. Klien juga sering tidak mengetahui potensi yang dia miliki yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah. Tugas konselor adalah membantu mengembangkan potensi klien sehingga klien dengan kemampuannya itu dapat mengatasi masalahnya. Untuk mengatasi masalahnya itu terlebih dahulu klien harus mampu menjelaskan masalahnya itu. Tugas konselor adalah membantu menjelaskan masalah yang dialami kliennya itu.
3)      Membuat penjajakan alternatif bantuan untuk mengatasi masalah. Konselor berusaha menjajaki kemungkinan rancangan bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien dan lingkungannya yang tepat untuk mengatasi masalah kliennya.
4)      Menegosiasikan kontrak. Kontrak konselor dengan klien mengenai waktu, tempat, tugas, dan tanggung jawab konselor, tugas dan tanggung jawab klien, tujuan konseling dan kerja sama lainnya dengan pihak-pihak yang akan membantu perlu dilakukan pada tahap ini. Kontrak itu mengatur kegiatan konseling termasuk kegiatan konselor dan klien. Ini artinya konseling adalah kegiatan yang saling menunjang dan bukan pekerjaan konselor saja. Di samping itu, dalam kontrak ini konselor mengajak klien dan pihak lain untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah kliennya.

b.      Tahap Pertengahan (Tahap Kerja)
Berdasarkan kejelasan masalah klien yang disepakati pada tahap awal, kegiatan selanjutnya adalah memfokuskan pada: (a) penjelajahan masalah yang dialami klien, (b) bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian kembali apa-apa yang telah dijelajah tentang masalah klien. Cavanagh (1982) menyebutkan tahap ini sebagai tahap action.
Menilai kembali masalah klien akan membantu klien memperoleh pemahaman baru, alternatif baru, yang mungkin berbeda dengan sebelumnya. Pemahaman ini akan membantu dalam membuat keputusan dan tindakan apa yang akan digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan adanya pemahaman baru berarti ada dinamika pada diri klien untuk melakukan perubahan dalam mengatasi masalahnya.
Adapun tujuan pada tahap ini adalah sebagai berikut.
1)      Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah serta kepedulian klien dan lingkungannya dalam mengatasi masalah tersebut. Dengan penjelajahan ini, konselor berusaha agar kliennya mempunyai pemahaman dan alternatif pemecahan baru terhadap masalah yang dialaminya. Konselor mengadakan penilaian kembali dengan mehbatkan klien dan lingkungannya untuk bersama-sama menilai masalah yang dialami klien. Jika klien bersernangat, berarti klien sudah begitu terlibat dan terbuka dalam proses konseling.
2)      Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara. Hal ini dapat terjadi jika klien merasa senang terlibat dalam proses konseling dan merasa butuh untuk mengembangkan potensi dirinya dalam mengatasi masalah yang dialaminya. Kondisi ini juga bisa tercipta jika konselor berupaya secara kreatif menggunakan berbagai variasi keterampilan konseling serta memelihara keramahan, empati, kejujuran, keikhlasan dalam memberikan bantuan konseling. Kreativitas konselor juga dituntut dengan menggunakan berbagai potensi yang ada pada klien dan lingkungannya untuk membantu dan menemukan berbagai alternatif sebagai upaya untuk menyusun rencana bagi penyelesaian masalah dan pengembangan diri klien.
3)      Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kontrak dinegosiasikan agar betul-betul memperlancar proses konseling. Untuk itu konselor dan klien agar selalu menjaga perjanjian dan selalu mengingat dalam pikirannya. Namun demikian, untuk memperlancar proses konseling, konselor boleh menambah kontrak lainnya dengan kliennya (fleksibel).
c.       Tahap Akhir Konseling
Cavanagh (1982) menyebut tahap ini dengan istilah termination. Pada tahap ini, konseling ditandai oleh beberapa hal berikut ini.
1)      Menurutnya kecemasan klien. Hal ini diketahui setelah konselor menanyakan keadaan kecemasannya.
2)      Adanya perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat, dan dinamik.
3)      Adanya tujuan hidup yang jelas di masa yang akan datang dengan program yang jelas pula.
4)      Terjadinya perubahan sikap yang positif terhadap masalah yang dialaminya, dapat mengoreksi diri dan meniadakan sikap yang suka menyalahkan dunia luar, seperti orangtua, teman, dan keadaan yang tidak menguntungkan.
Tujuan tahap akhir ini adalah memutuskan perubahan sikap dan perilaku yang tidak bermasalah. Klien dapat melakukan keputusan tersebut karena klien sejak awal berkomunikasi dengan konselor dalam memutuskan perubahan sikap tersebut. Adapun tujuan lainnya dari tahap ini adalah: (a) terjadinya transfer of learning pada diri klien; (b) melaksanakan perubahan perilaku klien agar mampu mengatasi masalahnya; (c) mengakhiri hubungan konseling.
3.      Konseling Kelompok
Strategi berikutnya dalam melaksanakan program bimbingan adalah konseling kelompok. Konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada peserta didik (peserta didik) dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan penumbuhannya, dan selain bersifat pencegahan, konseling kelompok dapat pula bersifat penyembuhan.
Konseling kelompok adalah suatu upaya bantuan kepada peserta didik dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok bersifat pencegahan dalam arti bahwa klien-klien (peserta didik) yang bersangkutan mempunyai kemampuan untuk berfungsi secara wajar dalam masyarakat, tetapi mungkin memiliki suatu titik lemah dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Konseling kelompok bersifat pemberian kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok itu menyajikan dan memberikan dorongan kepada individu-individu yang bersangkutan untuk mengubah dirinya selaras dengan minatnya sendiri. Dalam hal ini, individu-individu tersebut didorong untuk melakukan tindakan yang selaras dengan kemampuannya semaksimal mungkin melalui perilaku perwujudan diri.
Konseling kelompok adalah suatu proses antarpribadi yang dinamis yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang sadar dan melibatkan fungsi-fungsi terapi seperti sifat permisif, orientasi pada kenyataan, katarsis, saling memercayai, saling memperlakukan dengan mesra, saling pengertian, saling menerima, dan saling mendukung. Fungsi-fungsi terapi itu diciptakan dan dikembangkan dalam suatu kelompok kecil melalui cara saling memedulikan di antara para peserta konseling kelompok. Klien-klien dalam konseling kelompok pada dasarnya adalah individu-individu normal yang memiliki berbagai kepedulian dan persoalan yang tidak memerlukan perubahan kepribadian dalam penanganannya. Klien dalam konseling kelompok dapat menggunakan interaksi dalam kelompok untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan-tujuan tertentu, untuk mempelajari atau menghilangkan sikap-sikap dan perilaku tertentu.
Prosedur konseling kelompok sama dengan bimbingan kelompok, yaitu (a) Tahap pembentukan, temanya pengenalan, pelibatan, dan pemasukan diri. (b) Tahap peralihan, temanya pembangunan jembatan antara tahap pertama dan tahap ketiga. (c) Tahap kegiatan, temanya kegiatan pencapaian tujuan. (d) Tahap pengakhiran, temanya penilaian dan tindak lanjut.
4.      Konsultasi
Teknik lain dalam peluncuran program bimbingan adalah konsultasi. Konsultasi merupakan salah satu strategi bimbingan yang penting karena banyak masalah, karena sesuatu hal akan lebih berhasil jika ditangani secara tidak langsung oleh konselor. Konsultasi dalam pengertian umum dipandang sebagai nasihat dari seorang yang profesional.
Pengertian konsultasi dalam program bimbingan dipandang sebagai suatu proses menyediakan bantuan teknis untuk guru, orangtua, administrator, dan konselor lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi efektivitas peserta didik atau sekolah. Brown dan teman-temannya telah menegaskan bahwa konsultasi itu bukan konseling atau psikoterapi sebab konsultasi tidak merupakan layanan yang langsung ditujukan kepada peserta didik, tetapi secara tidak langsung melayani peserta didik melalui bantuan yang diberikan orang lain.
Ada delapan tujuan konsultasi, yaitu: a) mengembangkan dan menyempurnakan lingkungan belajar bagi peserta didik, orangtua, dan administrator sekolah; (b) menyempurnakan komunikasi dengan mengembangkan informasi di antara orang yang penting; (c) mengajak bersama pribadi yang memiliki peranan dan fungsi yang bermacam-macam untuk menyempurnakan lingkungan belajar; (d) memperluas layanan dari para ahli; (e) memperluas layanan pendidikan dari guru dan administrator; (f) membantu orang lain bagaimana belajar tentang perilaku; (g) menciptakan suatu lingkungan yang berisi semua komponen lingkungan belajar yang baik; (h) menggerakkan organisasi yang mandiri.
Ada lima langkah proses konsultasi, yaitu (a) menumbuhkan hubungan berdasarkan komunikasi dan perhatian pada konsulti; (b) menentukan diagnosis atau sebuah hipotesis kerja sebagai rencana kegiatan; (c) mengembangkan motivasi untuk melaksanakan kegiatan; (d) melakukan pemecahan masalah; (e) melakukan alternatif lain apabila masalah belum terpecahkan.
5.      Kolaborasi dengan Personel Sekolah, Orangtua, dan Masyarakat
Pada saat merencanakan dan melaksanakan program layanan dasar bimbingan di sekolah, konselor dapat bekerja sama dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas, guru bidang studi, staf tata usaha, orangtua, dan masyarakat di sekitarnya.
Pada saat merencanakan program layanan dasar bimbingan, konselor dapat berkolaborasi dengan kepala sekolah tentang berbagai kebijakan sekolah yang dapat didukung oleh program BK seperti meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademik, kesenian, olahraga, pramuka, dan kedisiplinan. Konselor dapat berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai sumber-sumber tenaga dan biaya untuk melaksanakan program BK.
Pada saat merencanakan program, konselor dapat juga berkolaborasi dengan wakasek kurikulum, kesiswaan, dan sarana tentang penataan waktu pelaksanaan BK di sekolah, sarana yang dibutuhkan BK, dan bentuk-bentuk kegiatan kesiswaan yang dapat mendorong gairah peserta didik untuk mau belajar di sekolah.
Konselor dapat juga bekerja sama dengan guru dalam merencanakan kegiatan-kegiatan intra dan ekstrakurikuler yang dapat mendorong anak merasa senang untuk belajar. Konselor dapat juga bekerja sama dengan staf administrasi sekolah dalam merencanakan teknik-teknik pengadministrasian dan pelaporan kegiatan layanan dasar bimbingan.
Pada saat melaksanakan program layanan dasar bimbingan banyak hal yang dapat dilakukan kolaborasi dengan pihak sekolah maupun luar sekolah. Pada saat memberikan layanan orientasi sekolah, konselor dapat berkolaborasi dengan kepala sekolah, wakasek, guru, dan staf Administrasi. Mereka diminta untuk bersedia menjelaskan tugas pokok dan fungsinya kepada peserta didik baru, sehingga peserta didik betul-betul memahami kedudukan dan tugas masing-masing personel sekolah.
Pada saat melaksanakan layanan dasar bimbingan bidang belajar, konselor dapat berkolaborasi dengan guru bidang studi, membantu para peserta didik unggul untuk memperkaya belajarnya, membantu para peserta didik normal (prestasi belajarnya biasa) untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan membantu peserta didik yang asor (prestasi belajarnya di bawah rata-rata) untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
Pada saat memberikan layanan dasar bimbingan yang bersifat informasi, konselor dapat berkolaborasi dengan anggota atau lembaga masyarakat yang ahli di bidangnya masing-masing. Pada saat peserta didik membutuhkan informasi tentang kesehatan, konselor dapat berkolaborasi dengan Puskesmas dan dokter. Pada saat peserta didik membutuhkan informasi tentang keamanan dan ketertiban, konselor dapat berkolaborasi dengan polisi. Pada saat peserta didik perlu informasi tentang keagamaan/kerohanian, konselor dapat berkolaborasi dengan Pesantren, Kiai, Pastur, dan Guru Agama. Pada saat peserta didik perlu informasi tentang kewirausahaan, konselor dapat berkolaborasi dengan pengusaha atau manajer perusahaan. Pada saat peserta didik membutuhkan informasi tentang perguruan tinggi, konselor dapat berkolaborasi dengan alumni sekolah dan pihak perguruan tinggi.
Pada saat mengevaluasi program layanan dasar bimbingan, konselor dapat bekerja sama dengan pihak sekolah maupun orangtua peserta didik. Konselor dapat meminta pendapat peserta didik, kepala sekolah, wakasek, guru bidang studi, wali kelas, dan orangtua tentang perencanaan dan pelaksanaan program BK. Mereka dapat diminta untuk efektivitas program BK dan keterlibatan personel sekolah dan peserta didik dalam pelaksanaan BK.
6.      Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial dapat didefinisikan sebagai upaya guru untuk menciptakan suatu situasi yang memungkinkan individu atau kelompok peserta didik tertentu lebih mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan, dengan melalui suatu proses interaksi berencana, terorganisasi, terarah, terkoordinasi, terkontrol dengan lebih memerhatikan taraf kesesuaiannya terhadap keragaman kondisi objektif individu dan/atau kelompok peserta didik yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan lingkungannya (Abin Syamsuddin Makmun, 1998: 228).
Pengajaran remedial merupakan salah satu tahap kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar. Secara skematika prosedur remedial tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. (a) Diagnostik kesulitan belajar mengajar. (b) Rekomendasi/referral. (c) Penelaahan kembali kasus. (d) Pilihan alternatif tindakan, (e) Layanan konseling. (f) Pelaksanaan pengajaran remedial. (g) Pengukuran kembali hasil belajar-mengajar. (h) Revaluasi/rediagnostik. (i) Tugas tambahan. (j) Hasil yang diharapkan.
Strategi dan teknik pengajaran remedial dapat dilakukan secara preventif, kuratif, dan pengembangan. Tindakan pengajaran remedial dikatakan bersifat kuratif kalau dilakukan setelah program PBM utama selesai diselenggarakan. Pendekatan preventif ditujukan kepada peserta didik tertentu yang diperkirakan akan mengalami hambatan terhadap pelajaran yang akan ditempuhnya. Pendekatan pengembangan merupakan tindak lanjut dari upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsung program PBM.
7.      Penggunaan Teknologi dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
a.      Penggunaan Teknologi Komputer
Salah satu layanan bimbingan dan konseling dengan menggunakan teknologi komputer khususnya internet adalah E-counseling. Konseling melalui e-mail sering disebut juga dengan email therapy, online therapy, cyber counseling atau e-counseling. Email counseling merupakan proses terapeutik yang di dalamnya termasuk menulis selain pertemuan secara langsung dengan konselor.
Email merupakan cara baru untuk berkomunikasi secara cepat dan efektif melalui internet. Hal ini tidak bermaksud untuk menggantikan konseling tatap muka, tetapi dapat menjadi salah satu cara dalam membantu klien memecahkan masalahnya pada jarak jauh tanpa bertemu langsung dengan konselor. Email counseling merupakan satu kesempatan untuk berkomunikasi antara klien dengan konselor yang di dalamnya dibahas mengenai masalah-masalah yang dihadapi klien.
E-counseling merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam proses konseling jarak jauh yang dilakukan antarkonselor dan klien untuk membantu masalah-masalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian dan kehidupan klien melalui surat atau tulisan pada internet.
E-counseling memerlukan waktu dalam menulis kepada konselor mengenai jenis bantuan apa yang diinginkan klien. Klien dapat mengirimkan inisial email dengan keterangan pada suatu situasi yang dirasakan klien. Kemudian konselor akan membalas email dalam waktu maksimum 72 jam (hari kerja sesegara mungkin) atau dalam hari yang sama.
Mengirimkan atau menulis email kepada konselor merupakan proses terapeutik karena klien tidak bertemu langsung dengan konselor (http://www.google/practice/practicarole’s.com). Kekuatan e-counseling terletak pada menulis. Respons, atau bantuan yang diberikan konselor bergantung kepada informasi yang diberikan. Klien tidak perlu mengirimkan seluruh kisah hidupnya, cukup dengan memilih informasi yang dirasakan pada satu situasi yang merupakan masalah.
Berikut ini adalah langkah-langkah menulis email kepada konselor yang terdapat dalam http://www.google/practice/practicarole’s.com
1)      Menuliskan nama awal atau nama panggilan.
2)      Nama lengkap, nomor telepon dan alamat, tetapi hal ini tidak terlalu penting.
3)      Alamat email yang digunakan dalam proses konseling.
4)      Usia, jenis kelamin, dan posisi dalam keluarga.
5)      Pengaruh masalah dalam kehidupan.
6)      Lamanya masalah dalam kehidupan.
7)      Usaha yang telah dilakukan dalam mengidentifikasi masalah: hal-hal apa yang telah dibantu dan apa yang belum dibantu.
8)      Pengalaman terapi sebelumnya.
9)      Informasi yang relevan mengenai latar belakang klien sebagai bahan pertimbangan konselor, seperti pekerjaan, pendidikan, perjalanan karier, gaya kepribadian, hubungan yang signifikan, keluarga dan latar belakang keluarga, nilai-nilai yang dianut, stres, merasa kehilangan atau perubahan dalam hidup dan hal-hal yang menjadi support dalam hidup.
10)   Tantangan-tantangan lain yang menjadi penting.
11)  Apa yang diharapkan dari e-counseling.
12)  Alasan mengapa memilih situs ini.
13)  Apa yang diharapkan dari e-counseling.
14)  Meringkas beberapa pertanyaan di akhir.
Setelah klien menuliskan seperti langkah-langkah di atas, konselor akan me-reply (menjawab) email yang dikirim klien dalam waktu lain (hari kerja) sesegera mungkin atau dalam hari yang sama.
b.      PenggunaanTeknologi Telepon
Perubahan tatanan kehidupan masyarakat global menuntut pemberian layanan bimbingan dan konseling yang cepat, luas, dan mudah diakses oleh klien, konseling melalui telepon. Ada etika dan panduan operasional dalam penggunaan teknologi telepon dalam layanan konseling.
Etika pelayanan konseling dengan menggunakan telepon adalah sebagai berikut.
1)      Gunakan bahasa yang sopan sesuai dengan kondisi klien.
2)      Gunakan suara lembut, volume yang rendah dan intonasi yang bersahabat.
3)      Dengarkan pembicaraan sampai selesai, jangan menyela kata-kata klien apalagi pada tahap awal pembicaraan.
4)      Mengembangkan perasaan senang dan berpikir positif tentang siapa pun yang menelepon.
5)      Catat hal-hal yang perlu memperoleh perhatian.
6)      Memfokuskan pembicaraan untuk mengefektifkan penggunaan media komunikasi.
7)      Selalu mengakhiri pembicaraan dengan kesiapan untuk melakukan hubungan komunikasi selanjutnya.
Adapun panduan operasional konseling dengan menggunakan telepon adalah sebagai berikut.
1)      Segera angkat telepon sebelum dering ketiga dan siapkan ATK yang diperlukan.
2)      Ucapkan Pass Word (Hot Line Counseling Service) ikuti dengan Selamat ..... (waktu).
3)      Sebutkan nama: ”Dengan .... di sini, ada yang dapat saya bantu?”
4)      Dengarkan apa yang disampaikan penelepon.
5)      Tanyakan identitas klien sebagai bagian dari pembicaraan, misalnya: mohon maaf, ... Dengan siapa saya berbicara ...?
6)      Berikan informasi, solusi, jawaban, nasihat, atau alternatif sesuai kebutuhan klien.
7)      Kemukakan apa yang tidak dapat kita lakukan, kemudian tawarkan alternatif solusi dan kemukakan keterbatasan yang dialami.
8)      Catat deskripsi pembicaraan pada saat konseling berlangsung.
9)      Akhiri pembicaraan, ucapkan terima kasih, dan nyatakan kesediaan untuk dihubungi kembali. ”Terima kasih .....telah menghubungi Hot Line Counseling Service. Kami siap membantu .... kembali jika diperlukan. Selamat .... (waktu).”
10)  Tutup telepon.
F.     Soal-soal Latihan
1.      Definisi Konsep
Di bawah ini terdapat sejumlah konsep utama (key concept) seperti anda baca dan pelajari dalam materi pelatihan teknik dan jenis layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Definisikan atau jelaskan dengan kata-kata anda sendiri secara singkat, padat, dan tepat (concise) setiap konsep tersebut.
a.       Konseling Individual ialah .................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
b.      Konsultasi ialah .................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
c.       Konseling Kelompok ialah .................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
d.      Bimbingan Kelompok ialah .................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
e.       E-counseling ialah .................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
2.      Aplikasi Konsep
a.       Buat perencanaan bimbingan klasikal dengan merancang sebuah satuan layanan secara utuh dengan menurunkan tema atau topik dari tugas perkembangan peserta didik.
b.      Buat bagan prosedur konseling individual.
c.       Buat bagan skematik prosedur dan strategi pengajaran remedial.
G.    Daftar Rujukan
Abin Syamsuddin Makmun. (1997). Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosda Karya.
Blocher, Donald. (1974). Developmental Counseling. New York: John Wiley and Sons.
Borders, L. DiAnne & Drury, Sandra M. (1992). ”Comprehensive School Counseling Programs: A Review for Policymaker and Practitioners”. Journal of Counseling and Development 70, 487-495.
Burbach, Harold J. & Decker, Lavy E. (1977). Planning and Assessment in Community Education. Michigan: Pendell Publishing Company.
Crow, Lester D. & Crow, Alice. (1962). An Introductions to Guidance. New Delhi: Eurasia Publishing House.
Davis, B. (1987). Evaluation Report of the K-12 Comprehensive Guidance Program of the San Diego City Schools. San Diego City Schools, Planning, Research, and Evaluation Division.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (1994). Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center.
Henderson, P. (1988). A Comprehensive School Guidance Programs at Work. Texas Association for Counseling and Development Journal, 15,25-27.
Havighurst, R.J. (1953). Developmental Tasks and Education. New York: David McKay.
HLCS UPTLBK UPI. (2003). Konseling melalui Telepon. Bandung: UPTLBK - Panitia Konvensi ABKIN.
Juntika Nurihsan. (2002). Pengantar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
_______________. (1999). Aplikasi Model Bimbingan Komprehensif di Sekolah Tinggi Ekonomi dan Manajemen Informatika Komputer. Bandung: STEMIK.
_______________. (2004). Sistem Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
Kolarik, William J. (1995). Creating Quality. Singapore: McGraw-Hill.
Muro and Kottman. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Iowa: Brown & Benchark Publisher.
New Hampshire Comprehensive Guidance and Counseling Project (1988). New Hampshire Comprehensive Guidance and Counseling Program: A Guide to an Approved Model for Program Development. Plymouth: Plymouth State College.
Rochman Natawidjaja. (1988). Peranan Guru dalam Bimbingan di Sekolah. Bandung: Abardin.
Rosenfield, Maxine. (1977). Counselling by Telephone. London: Sage Publications.
Stoner, James A. (1987). Management. London. Prentice-Hall International Inc.
www.here2listen.com. (2001). A Concept of E-Counseling. Compiled Sunaryo Kartadinata.


Sonie Elbalarjani Muta'alim, Mahasiswa, Santri

1 Response to "KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN"

  1. ASSALAMUALAIKUM SAYA INGIN BERBAGI CARA SUKSES SAYA NGURUS IJAZAH saya atas nama bambang asal dari jawa timur sedikit saya ingin berbagi cerita masalah pengurusan ijazah saya yang kemarin hilang mulai dari ijazah SD sampai SMA, tapi alhamdulillah untung saja ada salah satu keluarga saya yang bekerja di salah satu dinas kabupaten di wilayah jawa timur dia memberikan petunjuk cara mengurus ijazah saya yang hilang, dia memberikan no hp BPK DR SUTANTO S.H, M.A beliau selaku kepala biro umum di kantor kemendikbud pusat jakarta nomor hp beliau 0823-5240-6469, alhamdulillah beliau betul betul bisa ngurusin masalah ijazah saya, alhamdulillah setelah saya tlp beliau di nomor hp 0823-5240-6469, saya di beri petunjuk untuk mempersiap'kan berkas yang di butuh'kan sama beliau dan hari itu juga saya langsun email berkas'nya dan saya juga langsung selesai'kan ADM'nya 50% dan sisa'nya langsun saya selesai'kan juga setelah ijazah saya sudah ke terima, alhamdulillah proses'nya sangat cepat hanya dalam 1 minggu berkas ijazah saya sudah ke terima.....alhamdulillah terima kasih kpd bpk DR SUTANTO S.H,M.A berkat bantuan bpk lamaran kerja saya sudah di terima, bagi saudara/i yang lagi bermasalah malah ijazah silah'kan hub beliau semoga beliau bisa bantu, dan ternyata juga beliau bisa bantu dengan menu di bawah ini wassalam.....

    1. Beliau bisa membantu anda yang kesulitan :
    – Ingin kuliah tapi gak ada waktu karena terbentur jam kerja
    – Ijazah hilang, rusak, dicuri, kebakaran dan kecelakaan faktor lain, dll.
    – Drop out takut dimarahin ortu
    – IPK jelek, ingin dibagusin
    – Biaya kuliah tinggi tapi ingin cepat kerja
    – Ijazah ditahan perusahaan tetapi ingin pindah ke perusahaan lain
    – Dll.
    2. PRODUK KAMI
    Semua ijazah DIPLOMA (D1,D2,D3) S/D
    SARJANA (S1, S2)..
    Hampir semua perguruan tinggi kami punya
    data basenya.
    UNIVERSITAS TARUMA NEGARA UNIVERSITAS MERCUBUANA
    UNIVERSITAS GAJAH MADA UNIVERSITAS ATMA JAYA
    UNIVERSITAS PANCASILA UNIVERSITAS MOETOPO
    UNIVERSITAS TERBUKA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
    UNIVERSITAS TRISAKTI UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
    UNIVERSITAS BUDI LIHUR ASMI
    UNIVERSITAS ILMUKOMPUTER UNIVERSITAS DIPONOGORO
    AKADEMI BAHASA ASING BINA SARANA INFORMATIKA
    UPN VETERAN AKADEMI PARIWISATA INDONESIA
    INSTITUT TEKHNOLOGI SERPONG STIE YPKP
    STIE SUKABUMI YAI
    ISTN STIE PERBANAS
    LIA / TOEFEL STIMIK SWADHARMA
    STIMIK UKRIDA
    UNIVERSITAS NASIONAL UNIVERSITAS JAKARTA
    UNIVERSITAS BUNG KARNO UNIVERSITAS PADJAJARAN
    UNIVERSITAS BOROBUDUR UNIVERSITAS INDONESIA
    UNIVERSITAS MUHAMMADYAH UNIVERSITAS BATAM
    UNIVERSITAS SAHID DLL

    3. DATA YANG DI BUTUHKAN
    Persyaratan untuk ijazah :
    1. Nama
    2. Tempat & tgl lahir
    3. foto ukuran 4 x 6 (bebas, rapi, dan usahakan berjas),semua data discan dan di email ke alamat email bpk sutantokemendikbud@gmail.com
    4. IPK yang di inginkan
    5. universitas yang di inginkan
    6. Jurusan yang di inginkan
    7. Tahun kelulusan yang di inginkan
    8. Nama dan alamat lengkap, serta no. telphone untuk pengiriman dokumen
    9. Di kirim ke alamat email: sutantokemendikbud@gmail.com berkas akan di tindak lanjuti akan setelah pembayaran 50% masuk
    10. Pembayaran lewat Transfer ke Rekening MANDIRI, BNI, BRI,
    11. PENGIRIMAN Dokumen Via JNE
    4. Biaya – Biaya
    • SD = Rp. 1.500.000
    • SMP = Rp. 2.000.000
    • SMA = Rp. 3.000.000
    • D3 = 6.000.000
    • S1 = 7.500.000(TERGANTUN UNIVERSITAS)
    • S2 = 12.000.000(TERGANTUN UNIVERSITAS)
    • S3 / Doktoral Rp. 24.000.000
    (kampus terkenal – wajib ikut kuliah beberapa bulan)
    • D3 Kebidanan / keperawatan Rp. 8.500.000
    (minimal sudah pernah kuliah di jurusan tersebut hingga semester 4)
    • Pindah jurusan/profesi dari Bidan/Perawat ke Dokter. Rp. 32.000.000

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel